Tusukan Kenikmatan
Sekarang kehamilan saya sudah dalam perjalanan 7 bulan, pastinya ini adalah hal yang sangat menggembirakan untuk saya dan suami juga keluarga besar kami. Si baby sudah pandai menendang dan memukul, hal itu membuat saya merasa sangat menikmati kahamilan ini. Bahkan beberapa minggu yang lalu saya USG di Klinik University. Alhamdulillah hasilnya sempurna dan kata Dokter anak kami perempuan.
Saat itu anak kami sedang dalam keadaan terbuka seluruh jarinya. Padahal biasanya bayi dalam kandungan lebih sering menggenggamkan jarinya. Nampaknya anak kami sudah terlihat centil sejak dalam kandungan, hehe? Gemas sekali kami melihatnya, ingin segera menggendong, memeluk dan menciumnya! Lucuuuuu….?!
Bagi kami anak laki-laki atau perempuan sama saja, yang terpenting adalah sempurna dan sehat. Ini berita bahagia bagi kami, jadi kamipun segera mengabarkan berita tersebut kepada keluarga besar kami di Indonesia, tepatnya di Jogja, Madura dan Semarang.
Kemarin hari Senin tanggal 19 Januari, saya melakukan check-up rutin diantar suami. Hasilnya, anak kami dalam keadaan sehat. Tetapi ada satu hal yang membuat saya dan suami kembali lagi menemui dokter pagi harinya, hari Selasa, pagi tadi. Dikarenakan berat badan saya yang melonjak naik 5kg dalam jangka waktu sebulan. Menurut dokter saya harus cek darah untuk mengetahui apakah ada gejala diabetes atau tidak.
Ya, tadi pagi saya diambil darah sebanyak dua kali. Semalam saya diharuskan puasa sejak pukul 10.00 p.m hingga pagi harinya setelah darah selesai diambil. Pertama darah diambil dari tangan kiri pada pukul 08.30-an. Lalu saya diberi air gula untuk diminum. Pada pukul 10.00 a.m saya kembali diambil darah, tetapi kali ini tidak langsung sukses seperti yang pertama, sebab tempat suntikan pertama tadi dicoba lagi untuk diambil darahnya tetapi tidak mau keluar. Sakit pastinya, tetapi saya harus menahannya. Lama tidak mau keluar, kemudian dicoba pada tangan kanan, syukur Alhamdulillah sukses.
Artinya pagi ini saya mendapatkan 3x suntikan jarum yang cukup besar. Mantap memang, hehe? Oya, saya juga diharuskan cek tensi darah setiap hari Selasa dan Jum’at, tepatnya setiap dua kali seminggu.
Bagi saya dan suami, yang terpenting adalah kesehatan, baik anak kami dan juga saya. Oleh karena itu kami berusaha untuk selalu mematuhi perintah dokter. Benar-benar hari yang penuh dengan tusukan jarum kenikmatan. Amin.
Idul Adha saat memasuki 6 bulan.
Untuk kali kedua saya menjalani hari raya haji atau Idul Adha di Penang. Tetapi saya merasa biasa saja, bahkan jauh dari hingar bingar perayaan seperti saat saya menjalaninya di Jogja. Tetapi tidak menjadi masalah, yang penting adalah maknanya tetap dijalankan. Buktinya saya melihat orang-orang dari masjid membawa tas plastik berisi daging. Paling tidak itu menandakan bahwa “pengorbanan” telah dilaksanakan, sesuai dengan perintah Allah pada Nabi Ibrahim As.
Yang membedakan raya haji 1429H kali ini dengan sebelumnya adalah karena raya kali ini saya sedang hamil. Apalagi sekarang sibaby dalam rahim saya sudah mulai pandai bergerak-gerak. Menurut Pregnancy Journal, bayi dalam usia seperti kehamilan saya saat ini yaitu 6 bulan, dia sudah pandai melompat-lompat dan menendang-nendang.
Ya, saya merasakan tendangannya. Saat dia bergerak dalam posisi apapun tentunya saya merasakannya. Saat dia bergerak selalu saya usap, saya menikmatinya juga mensyukurinya. Gemas rasanya merasakan gerakannya, kadang jika perut terasa kencang karena sibaby terlalu aktif bergerak, saya menangis, lalu setelah diusap oleh ayahnya barulah terasa berkurang sakitnya. Mungkin sibaby sudah tenang cukup dengan usapan ayahnya.
Oya, kami memang belum mempersiapkan segala keperluan baby ini. Awalnya kami ingin segera membeli segala kebutuhannya, tetapi ibu saya bilang nanti saja saat usia kehamilan sudah 8 atau 9 bulan. Lalu, ada juga nasihat dari Mak Cik depan rumah, katanya pamali kalau beli keperluan baby saat kehamilan masih tergolong muda. Karena banyaknya nasehat dari orang tua dan orang yang sudah berpengalaman, maka kamipun menundanya. Tidak mengapa menunda kalau memang untuk kebaikan.
Saya bangga dengan kehamilan ini, saya bangga dengan perut yang semakin membesar karena anak kami ini. Meski badan saya tidak langsung menjadi besar layaknya perempuan kalau hamil, tetapi syukur Alhamdulillah kondisi saya dan sibaby sehat wal’afiat. Saya sangat bersyukur dan menikmati Rahmat yang Allah berikan pada kami. Amien.
Sendiri bukan berarti sepi
Hai semua…
Hari ini sampai nanti Ahad saya sendirian di rumah. Suami sedang mengikuti seminar selama 4 hari. Ini adalah pengalaman pertama saya sendirian tanpa dia dalam waktu beberapa hari di negeri orang. Kalau dulu kami pernah berjauhan, tetapi beda, sebab dulu saya bersama orang tua, jadi ada teman ngobrol.
Sekarang saya hanya bersama baby dalam rahim ini. Syukur dia tenang, tidak membuat saya sakit perut ataupun mual. Mungkin karena kemarin sebelum ayahnya berangkat dia sudah dinasehati supaya jangan rewel selama ayahnya seminar. Kami percaya bahwa baby dalam kandungan mampu mendengar apa kata kami, ayah-bundanya.
Benar kata ibu saya, kalau sudah memiliki anak, nantinya akan mampu mandiri dengan sendirinya, dan sekarang saatnya saya merasakan hal itu meskipun anak ini belum lahir, tetapi dia membawa saya pada rasa kemandirian sebagai ibu.
Kalau saya bosan di rumah, saya bisa main ke rumah Mbak Troy. Beruntung memiliki tetangga dan kawan yang baik. Awalnya saya takut, tetapi setelah menjalani malam pertama sendirian, rasa takut itu hilang. Saya menghadirkan rasa nyaman di rumah dengan berbagai aktifitas. Saya mengetik kerjaan suami (itung-itung membantunya) sambil membuka internet, memasak dan mencuci baju seperti biasanya, dan menoton televisi.
Suami juga sering sekali telfon atau juga sms. Mungkin dia khawatir, apalagi saya sedang hamil. Tetapi selalu saya katakan kalau anaknya tenang, kami baik-baik saja.
Sayang rasanya kalau sampai suami tidak ikut seminar itu. Awalnya memang dia agak berat hati meninggalkan saya, tapi saya mendorongnya. Bagi saya, dengan mengikuti seminar itu, suami akan semakin banyak kawan dan pengalaman. Saya selalu mendukung dalam hal kemajuan karier dan ilmunya. Semoga bermanfaat dan diberkahi Allah. Amin.
Nopember Ceria
Semakin hari si baby dalam rahim ini semakin membuat saya merasa sesak. Memang dia tidak sebesar layaknya kandungan usia 5 bulan, mungkin karena memang perut saya yang berukuran kecil. Sebab kata dokter semuanya okay.
Tanggal 10 Nopember yang lalu saya kembali kontrol ditemani suami, dan hasilnya semuanya baik-baik saja. Lalu pada tanggal 13-nya dua orang suster datang ke rumah untuk kembali mengontrol saya dan si baby. Yang membuat saya dan suami semakin gembira adalah saat kami mendengar detak jantung anak kami, rasanya terharu, dan tidak dapat dijabarkan dengan kata-kata.
Baru begitu saja kami sudah sangat bahagia, bagaimana kalau nanti saat dia lahir, pastinya kami akan lebih besar bersyukur, syukur dan syukur!
Rencananya, bulan depan kami baru akan mulai membeli perlengkapan untuk menyambut hadirnya buah hati kami ini. Karena kami belum melakukan USG, jadi warna yang kami pilih adalah warna yang netral. Tentunya ini juga bagian yang menyenangkan bagi kami.
Kehadiran anak memang membuat kami semakin merasa penuh dengan kesempurnaan dalam mengecap kebahagiaan pernikahan. Oya, kemarin tanggal 14 Nopember pernikahan kami menginjakkan usia ke-3. Lalu besok tanggal 19 gantian ulang tahun saya yang ke-25. Bulan ini diwarnai dengan pertambahan usia, dari usia pernikahan hingga usia saya. Harapan saya, semoga segalanya diberkahi oleh Alloh SWT. Amien.
Hore….OBAMA MENANG….!
Partai Demokrat di USA sedang menikmati kemenangan Obama. Begitu juga sebagian warga Indonesia yang mendukung dan pernah berhubung kait dengan presiden pertama kulit hitam AS itu. Sampai-sampai bekas sekolah SD Obama, SDN Menteng 01 juga melakukan upacara sambil mengirim do’a untuknya. Tidak ketinggalan presiden SBY bahkan memberikan ucapan selamat melalui telephon yang diterima langsung oleh kepala sekolah SD tersebut.
Wow, nampaknya kemenangan Obama menggembirakan banyak orang. Obama diharapkan mampu mewujudkan pemerintahan yang penuh dengan perdamaian tidak hanya di AS saja tetapi juga di seluruh dunia. Bangsa kulit hitam AS kini memiliki kekuatan yang lebih dan mental yang semakin menjadi dengan munculnya pemimpin dari kalangan mereka.
Kita semua warga dunia memiliki harapan atas kemenangan Obama, tetapi ingatlah bahwa Obama hanyalah manusia biasa yang mungkin tidak dapat memenuhi segala impian dan harapan seluruh dunia. Oleh karenanya, kita harus realistis dengan kondisi dunia sekarang. Jangan tergesa-gesa untuk mengandaikan Obama akan dapat menjadi “pahlawan” dunia. Mari kita bersama-sama melihat bagaimana perkembangan kemajuan tugas yang diembannya untuk beberapa waktu ke depan. Barulah kita akan dapat memberikan pernyataan akan keseriusan dan kebenaran segala janji-janji Obama saat kampanye.
Saya mengatakan itu bukan karena saya pendukung Mc.Cain ataupun benci pada Obama. Sebab kedua orang tersebut tidak ada hubung kait dengan saya. Saya berkata demikian karena Indonesia seakan-akan sudah sangat mengalu-alukan Obama sebagai bagian dari warga dunia yang pernah tinggal di Indonesia dan akhirnya menjadi presiden AS. Okay kalau itu menjadi bagian dari sebuah kebanggaan, tapi sepertinya tidak perlu terlalu dibesar-besarkan. Meski saya yakin, latar belakang dari segala kebanggaan itu adalah perasaan lebih dekat dengan Obama karena dia pernah tinggal di negara kita dan bahkan bersekolah meski hanya sebentar. Tentunya selain daripada rasa tersebut, layaknya seperti warga dunia yang lain adalah harapan hubungan antar negara yang lebih harmonis lagi. Semoga Obama merasakan juga kedekatan yang seperti sebagian rakyat Indonesia rasakan itu. Artinya tidak bertepuk sebelah tangan!
Yang sangat perlu dibesar-besarkan adalah hasil kerja Obama nantinya. Benarkah dia akan dapat mewujudkan perdamaian, terutama di daerah konflik Timur Tengah…? Semoga!
Ke Pusat Warisan Pulau Penang
Tuesday November 04th 2008, 1:41 am
Filed under:
Travel
Saya dan suami barusaja pulang dari Pusat Warisan Pulau Penang. Berdua kami menjajaki jalan Bandar Pulau Penang dengan menaiki sepeda motor. Selama mata memandang, hanya gedung-gedung dan rumah-rumah kuno peninggalan Inggris yang kami lihat. Kedai-kedai yang betebaran di sisi-sisi jalan mengingatkan saya pada salah satu daerah di Jawa Tengah, Semarang, tepatnya di kawasan pecinan. Nampaknya Pulau Penang memang lebih didominasi oleh orang keturunan China. Seperti yang sudah banyak orang tahu, Malaysia memiliki ragam penduduk, yaitu penduduk asli Melayu, China dan India.
Pada mulanya memang sesungguhnya kami tidak tahu pasti di mana letak gedung Pusat Warisan tersebut, hanya dengan alamat yang diberikan oleh DR. Suhaimi(salah satu dosen di kampus suami) kami mencari tempat tersebut. Beberapa kali kami bertanya pada orang jalan menuju tempat tersebut. Bandar Pulau Penang memang tidak besar, tetapi penuh dengan lorong dan belokan-belokan, itu juga yang kadang membuat kami melewati jalan yang sudah kami lewati sebelumnya. Kami tertawa jika melakukan hal tersebut.
Tapi syukurlah akhirnya perjuangan mencari Pusat Warisan itu berhasil. Tempat itu sangat sepi, saat kami datang hanya ada satu orang satpam saja di tempat itu. Kami masuk, dan langsung mengambil brosur yang ada di dekat pintu masuk. Itulah yang suami saya butuhkan untuk pekerjaan dia selanjutnya. Ya, kami ke tempat itu dalam rangka memenuhi tugas kerja suami dengan DR. Suhaimi. Sesaat kemudian datanglah seorang staf, entah siapa namanya sebab kami tidak sempat bertanya, tetapi dia dengan segera dan ramah menyapa kami. Staf tersebut bertanya kami dari mana dan bertanya apa saja keperluan kami. Kami diberinya semacam buku petunjuk dengan judul “ GEORGE TOWN (Penang) UNESCO World Heritage Site”.
Tidak lupa kami juga mengambil dua buah peta Pulau Penang, harapan kami agar jika suatu saat kami ke Bandar lagi tidak akan tersesat J. Lalu tidak lama kemudian kami langsung keluar dari tempat tersebut dan menuju ke kampus suami. Lega rasanya sudah menunaikan tugas suami, dan saya mendapatkan pengalaman baru.
Indonesia, jangan biarkan rakyatmu menangis di negeri orang!
Hari ini kami menemani Pak Zailani ke salah satu agen tenaga kerja wanita di Pulau Penang tepatnya di daerah Bayan Lepas. Pak Zailani adalah kawan suami di USM( University Sains Malaysia), beliau orang Melayu asli, tepatnya Kedah. Kawan tersebut sedang sangat memerlukan jasa pembantu rumah tangga sebab dia dan isterinya sama-sama bekerja. Pak Zailani seorang dosen yang juga seperti suami saya sedang sambil melanjutkan S3, dan isterinya seorang dokter. Mereka memiliki 3 orang anak balita, yang bungsu masih baby.
Wajarlah kalau Pak Zailani memerlukan jasa pembantu. Kawan suami tersebut lebih memilih pembantu dari Indonesia karena dinilai gajinya lebih murah berbanding dari negara lain. Pak Zailani diharuskan membayar uang pertama sebanyak RM 5800, sekitar Rp 14.500.000. Biaya keseluruhannya adalah RM 7850, sekitar kurang lebih 20-an juta, uang tersebut digunakan untuk mengurus dokumen dan segala macamnya, serta tiket pesawat. Kemudian untuk setiap bulannya Pak Zailani harus menggaji sebesar RM 550, sekitar Rp 1.375.000. Kawan suami tersebut juga tidak perlu membayar gaji si pembantu tersebut selama 6 bulan pertama, sebab gaji dia dihitung sebagai pengganti uang pengurusan dokumen dan macam-macamnya. Selain itu yang mendorong orang Malaysia memilih pembantu dari Indonesia adalah kemudahan dalam hal komunikasi, yaitu bahasa yang hampir mirip.
Jujur, hati ini merasa miris ketika melihat kenyataan bahwa pembantu tersebut adalah saudara sebangsa dan setanah air kita. Mereka merantau, mencari uang untuk meneruskan kehidupan dan berharap akan menjadi lebih baik.
Saya juga tadi diberi kesempatan untuk berbincang dengan pembantu yang Pak Zailani pilih lewat handphone. Kebetulan dia orang Jawa Tengah jadi komunikasi terasa lancar. Seorang ibu kelahiran tahun 1975, memiliki 4 orang anak, dan yang paling kecil berusia 4 tahun. Bisa dibayangkan, anak usia 4 tahun sudah ditinggal ibunya merantau jauh ke negeri seberang.
Okay, mungkin ada sangat banyak para pekerja Indonesia di Malaysia yang tidak beruntung, tetapi itu juga disebabkan banyak faktor. Jadi semoga pembantu Pak Zailani kerasan tinggal di Kedah, dan jauh dari segala persoalan-persoalan. Sebab segala urusan dokumen dia sudah jelas, jadi tidak perlu ada yang dirisaukan lagi.
Berbeda jauh dengan para tenaga kerja yang bermasalah dan sekarang mereka berada kantor Konsulat Jenderal Indonesia di Penang, selain bermasalah, mereka juga tidak memiliki paspor dan permit. Kalau dipikir-pikir perbuatan mereka itu sangat nekat bukan? Itu yang katahuan, masih banyak yang tidak katahuan oleh aparat Malaysia.
Sebab, saat suami melakukan pendataan untuk pemilihan umum 2009 nanti, banyak para pekerja yang tidak mau di data dengan alasan takut. Kami tidak habis pikir, bagaimana mereka bisa sampai ke negara orang tanpa surat apapun? bahkan, KTP saja mereka tidak punya!
Ada yang mengatakan kalau mereka menuju ke Malaysia dengan menaiki perahu bot yang biayanya malah jauh lebih lebih mahal dibandingkan naik pesawat. Belum lagi keamanan yang tidak terjamin, sebab bot tersebut adalah bot yang biasanya untuk mencari ikan para nelayan.
Pemerintah kita harusnya segera mensosialisasikan lewat media massa, televisi atau media apapun supaya mereka yang tidak memiliki dokumen yang lengkap jangan berani-berani keluar dari negara sendiri. Terutamanya sosialisasi dilakukan di daerah pelosok desa yang diperkirakan banyak masyarakatnya sangat berminat menjadi TKI.
Mereka sama seperti kita, manusia biasa yang memerlukan keamanan, kenyamanan, dan juga martabat yang sama. Demi sesuap nasi mereka rela melakukan semua itu, karena mungkin mereka rasa di negaranya sendiri nasib tidak berpihak padanya.
Indonesia, jangan biarkan rakyatmu menangis di negeri orang!
Memasuki Usia Kehamilan 5 Bulan.
Tidak terasa memasuki bulan Nopember, kalau begitu usia kehamilan saya memasuki bulan kelima. Perut ini semakin membesar tentunya, membuat saya terkadang merasa sesak. Tetapi itu semua wajar, dan sayapun menikmatinya, meski dengan mengeluh dan bermanja dengan ayah si baby ini. Karena saking senangnya, kamipun tidak sabar menimang dan bermain dengannya. Sering kami mengajaknya bicara meski dia masih dalam rahim saya yang entah sedang apa
Seperti semalam, saya merasakan perut sakit sekali, rasanya seolah-olah perut ini ditarik-tarik kencang dan terasa sampai ke punggung. Saat perut ini saya pegang, terasa keras dibagian perut sebelah kanan bawah. Karena tidak tertahankan, sayapun menangis sejadinya :’( hingga suami bingung harus bagaimana. Lalu oleh suami diusapnya perut hingga punggung saya dengan diolesi minyak kayu putih. Tidak lama kemudian berkurang sakit tersebut, lega rasanya
Kamipun tertawa, sebab seolah-olah baby ini merajuk ingin diusap oleh sang ayah, hingga dia buat saya kesakitan. Sayapun heran, padahal saya bunda yang mengandungnya, tidak sedang ingin diusap ayahnya, hik?! Tetapi rupanya si baby baru diam jika sudah “ditangani” oleh ayahnya. Anak ayah dia rupanya.
Saya tidak tahu kejadian semalam termasuk langka untuk ibu hamil yang memasuki usia kehamilan 5 bulan atau tidak, yang jelas itulah yang saya rasakan. Padahal, meski perut ini membesar, tetapi belumlah terlihat sangat. Oleh sebab itu kami pikir baby kami masih kecil dan belum tahu apa-apa. Tetapi Allah Maha Kuasa, benar kalau di saat 4 bulan Allah meniupkan ruh pada manusia ciptaan-Nya di dalam rahim ibu. Jadi anak kamipun begitu juga, dan meski baru diberi-Nya ruh, anak kami rupanya langsung dapat dengan cepat merespon stimulan-stimulan yang kami berikan.
Ah, entahlah… Kamipun heran… Tentunya kami tidak dapat menjelaskan dengan teori, saya hanya dapat bercerita apa saja yang saya rasa dan suami yang juga selalu ikut bingung dengan tingkah anak kami. Allah Maha Besar. Subhannallah..
Selamat jalan Pak Dhe, jasamu akan selalu kami kenang, selamanya.
Sehari semalam di tanggal 14 Oktober 2008 lalu, bagian atas mata kanan berdenyut, atau biasa orang Jawa bilang “keduten”. Biasanya bagi orang Jawa ada kepercayaan bahwa orang yang merasakan hal seperti itu akan mendapatkan rezeki. Begitu pula jawaban suami ketika saya menanyakan perihal yang saya rasa. Saya juga sempat sms adik di Jogja, jawabannyapun sama seperti suami. Syukur Alhamdulillah jika memang pertanda baik itu benar-benar terjadi.
Pagi harinya tanggal 15 Oktober, keduten itu hilang sejenak, baru sekitar pukul 10-an lebih ketika kami sedang di dapur mencuci piring dan buat minuman, keduten itu datang lagi, tapi tidak sekencang sebelumnya. Sayapun kembali bilang pada suami, suami hanya tersenyum, katanya “nanti juga hilang ,sayang..”Benar juga ucapannya, sekejap kemudian hilang rasa itu. Sayapun melakukan aktifitas seperti biasa.
Sore harinya sesaat setelah saya terbangun dari tidur siang, kira-kira pukul 16-an, ketika itu saya sedang asyik makan mie rebus, ada sms masuk, dari adik di Jogja, isinya ada berita duka cita, bahwa PakDhe Parmadi meninggal dunia sekitar pukul 11.00 a.m
Berhentilah makan saya, lemas badan terasa, bertanya-tanya apa penyebabnya. Tidak lama kemudian, mami saya di Semarang telfon, juga mengabarkan berita tersebut,mungkin dikiranya saya belum tahu. Dari suaranya terlihat kalau mami sedih sekali. Dari mami pula saya mendapati kejelasan kalau PakDhe kena serangan Hipertensi, dan sempat juga dibawa ke rumah sakit.
PakDhe Parmadi memang bukan PakDhe kandung saya, dia bahkan awalnya orang lain. Tetapi karena jasa-jasanya yang sangat banyak membantu keluarga saya dalam bidang kesehatan selama bertahun-tahun, tentunya hubungan kami sangat dekat. Orang yang pertama kali berobat ke tempat beliau adalah ibu saya. Saat itu ibu sakit pendarahan yang sudah sangat akut, padahal bapak selalu membawa ibu periksa ke dokter spesialis kandungan. Tetapi mungkin itu bukanlah jalan keluar yang dikehendaki Allah, lalu ada kawan baik bapak namanya Pak Toto yang memberitahu bahwa ada cara alternatif yang mungkin dapat dicoba, sebab manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a. Bertemulah orang tua saya dengan PakDhe, saat itu saya masih kelas 1 SD. Melalui banyak percakapan akhirnya kami semua dekat, dan syukur Alhamdulillah penyakit ibu saya sembuh total tanpa operasi dan macam-macam saran yang dulu pernah dokter berikan. Sejak saat itu keluarga kami semakin dekat, bahkan sebagian besar keluarga orang tua saya pernah menjalani pengobatan dengan PakDhe. Hingga semua Eyang dan Om serta bulik-bulik saya. PakDhe juga guru “spiritual” kami, meski kami berbeda keyakinan, tapi kekeluargaan antara kami tidak terhalang. Bagaimana saya dapat melupakan jasa baik beliau selama ini, jika itu semua menyangkut kesehatan kami? Memang usia hanya Allah SWT yang mengetahui, tapi manusia harus tetap berikhtiar, bukan?
Ternyata mami juga mendapatkan pertanda atas ketiadaan PakDhe, katanya banyak burung Prenjak di kantin beterbangan( mami saya memiliki sebuah kantin di Fak Kelautan UNDIP), mami tanya pada pembantu apa gerangan, jawabnya itu akan ada tamu atau rezeki. Tapi sesaat kemudian setelah burung-burung itu pergi, bapak saya di Jogja telfon mengabarkan berita duka tersebut. Ya, mati-hidup adalah milik Allah SWT.
Saya tidak pernah melihat bahwa PakDhe Parmadi adalah orang lain, orang yang berbeda keyakinan, orang yang tidak segolongan dengan saya. Tetapi bagi saya, pandangan seperti itu hanya akan membawa pada ketidak rukunan dan hilangnya kesatuan serta rasa persaudaraan. Bagi saya, beliau adalah orang tua yang patut dihargai dan dihormati atas jasa-jasa dan kebaikannya.
Banyak sekali pasien PakDhe, tidak terhitung jumlahnya, tapi beliau ikhlas melakukan itu semua tanpa pungutan apapun. Tetapi meski begitu, keluarga saya tetap memberi tanda mata untuk PakDhe dan BuDhe setiap berobat, sebab kami sadar, apa yang kami beri selama ini belum apa-apa dibandingkan dengan jasa PakDhe pada keluarga kami. Jarang sekali orang semacam beliau, saat diberipun orang tua saya tidak langsung diberikan pada PakDhe, sebab bisa-bisa beliau marah, pemberian itu kami masukkan dalam amplop dan kami masukkan lagi dalam tas yang berisi oleh-oleh apapun jenisnya. Bahkan kadang jika menurut beliau pemberian kami berlebihan, esoknya beliau bilang pada kami untuk jangan berlebihan seperti itu. Padahal sekali lagi, menurut kami itu belum apa-apa jika dibandingkan dengan jasa beliau. Oya, PakDhe menyebut mereka yang berobat adalah pasien. Bahkan dokterpun ada juga yang ketempat beliau. Macam-macam latarbelakang pasien PakDhe tentunya, dari golongan orang biasa hingga pejabat, dari dokter hingga dosen, juga para pengusaha restoran dan hotel. Yang mengherankan, rata-rata semua pasien beliau sembuh dari sakit yang dideritanya. Jarang sekali ada yang gagal, asalkan dia menuruti anjuran, dan memang masih diberi umur panjang oleh Allah Pemilik jiwa dan raga kita.
Meskipun cara penyembuhan beliau disebut kebanyakan orang adalah cara alternatif, tapi metode yang digunakan beliau bukan seperti dukun yang memakai bunga-bunga dan sesaji, hanya do’a sesuai dengan agama masing-masing pasien dan pijatan melalui tenaga dalam beliau yang biasa kita sebut reflexi. Selain itu, kamipun disarankan minum jamu yang bahan-bahannya bisa kita beli di pasar Asem( diJogja). Terkadang ada juga jenis tumbuhan yang sulit untuk di dapat dan ternyata BuDhe menanamnya di halaman belakang. Memang macam-macam pengalaman setiap individu pasien saat berobat di PakDhe. Tetapi, setiap orang dan setiap penyakit berbeda jamunya. Metode Reiki yang sekarang terkenalpun beliau bisa, yang membedakan hanya jika ditempat lain akan keluar uang banyak, jika di PakDhe tanpa sepeserpun.
Kalau saya cerita lagi kebaikan beliau pada orang-orang tentunya akan membutuhkan banyak waktu. Hingga saat ini sayapun tidak dapat membedakan kedekatan keluarga saya dan keluarga PakDhe dengan para pasien beliau. Memang sangat berbeda, PakDhe dekat dengan pasien hanya saat proses penyembuhan saja, sebab biasanya jika sudah sembuh dan mendapatkan yang diinginkan mereka tidak kembali menjalin hubungan kekeluargaan tersebut. Tetapi keluarga saya berbeda, dalam kondisi dan situasi apapun kami tetap berkomunikasi dan menjalin hubungan baik itu.
Padahal rencananya jika sudah melahirkan nanti, saat kami pulang Jogja, kami akan kerumah beliau dan memperlihatkan anak kami. Saya yakin, beliau pasti bahagia, karena beliau perhatian sekali pada saya. Tetapi meski PakDhe sudah tiada, kamipun akan tetap sowan ke rumahnya dan membawa anak kami, sebab masih ada BuDhe di sana. Semoga BuDhe kuat dan tetap semangat menjalani hari-hari ke depan tanpa kehadiran raga PakDhe. Amien.
Idul Fitri 1429 H
Penang, 25 September ‘08
Kurang lebih seminggu lagi lebaran, saya mengucapkan syukur kehadirat Allah SWT yang memberikan kenikmatan hidup dan umur panjang. Meskipun lebaran kali ini kami di negeri orang, tapi itu tidak membuat kami bersedih hati, pasalnya kami diberi keindahan lain oleh Allah, yaitu menjalani lebaran ini bersama anak dalam rahim saya. Kalau tahun lalu kami berdua, sekarang kami bertiga meski dia belum menikmati udara bumi, tapi kami merasakan kehadirannya.
Jangan pernah berkata kalau Allah tidak adil, sebab Dia tahu mana yang terbaik untuk umat-Nya. Rezeki yang Dia berikan pada kami ini sangat besar dan sangat berarti bagi kami. Do’a kami terkabulkan saat pernikahan kami memasuki usia 2,5 tahun. Cukup lama bukan? Pastinya saat-saat itu saya sangat takut tidak dapat memiliki keturunan, tapi suami selalu memberikan semangat dan yakin kalau kami akan memilikinya, sebab dalam sejarah keluarga kami tidak ada yang tidak memiliki keturunan. Bahkan anak nenek kami banyak, ibu kamipun tidak hanya memiliki 1 anak tapi lebih. Jadi apa yang harus saya risaukan? Apalagi kondisi kesehatan kami baik-baik saja. Menurut suami, tidak ada halangan untuk kami punya anak, hanya kami harus bersabar, sebab Allah yang menentukan saatnya.
Benar apa kata suami, mungkin bagi Allah sekarang ini waktu yang sangat tepat untuk kami memiliki anak. Sekarang kehamilan saya sudah berumur 3bulan, perut ini mulai agak membesar, meski belum sangat nampak jika dilihat dari luar baju saya. Hanya pada bagian pinggang celana saya mulai terasa sesak. Bahkan ibu saya penasaran ingin melihat saya saat hamil. Ibu minta dikirim foto saya saat hamil. Ya maklumlah, inikan cucu pertamanya, pastinya beliau sangat bahagia. Keluarga kami memang heboh dengan apa saja yang kami alami. Bahkan kami seakan “artis“ dalam keluarga, sebab semua ingin tahu tentang kami. Ya, pastinya kami sangat bersyukur, sebab memiliki keluarga yang mendukung dan sangat sayang. Mulai dari keluarga saya di Jogja, Semarang hingga keluarga suami di Madura. Bahkan suami sempat iri, sebab setiap dia telfon ibunya, yang pertama ditanyakan ibu adalah kondisi saya,hehe?
Bagi kami, lebaran kali ini memberikan kenikmatan yang hakiki, meskipun jauh dari orang tua dan saudara-saudara kami. Tapi tidak mengapa, sebab nanti saat anak kami sudah cukup usia untuk naik pesawat, kami akan membawanya pada komunitas yang penuh dengan kasih sayang, yaitu keluarga kami. Anak kami memiliki banyak eyang, di Jogja ada Datuk ama Datin, di Semarang ada Oma ama Opa juga eyang buyut kakung dan uti, bedanya kalau di Madura hanya ada embah uti-nya sebab bapak suami sudah meniggal. Belum lagi uncle ama tante-nya yang super banyak dan pastinya heboh semua tanpa kecuali, di Jogja ada tante Hanny dan Ana juga uncle Sultan dan Gamma, di Semarang ada uncle Ipank, W-one, dan Denny juga tante kecilnya, Silvy. Dan di Madura, dia punya (Bu-dhe Nur, Pak-dhe Zain) (uncle Syarif dan tante Naf’ah). Oya, si baby ini juga punya kakak sepupu, keponakan suami yang setakat ini baru simanja ini seorang, anak mbak kami, mbak Nur, Dini Syahadatina namanya.
Senang memang kalau ngomongin keluarga, meski efeknya jadi makin kangen?he..he..? I love u all.. emmmmmuuuuaaaacccchhhh….!
Minal A’idzin wal Fa’idzin, Mohon maaf lahir dan batin.