Say No to Poligamy
Tuesday July 29th 2008, 4:37 am
Filed under:
Religion
Hai…….
Hari ini saya baca Novel dari Farahdiba dengan judul Maria dan Mariam. Novel itu hasil pinjaman suami di perpustaaan kampusnya kemarin. Saya tau, itu novel yang sudah cukup lama, tapi yang membuat saya tertarik karena dia berbicara mengenai peran perempuan dan salah satunya kutipan dari DR. Siti Musda Mulia yang menyatakan bahwasannya perempuan harus dapat menggedor pintu stereotipe bahwa perempuan adalah makhluk yang tidak berguna, harus berani melawan
dominasi, diskriminasi, dan eksploitasi sekalipun berkedok agama.
Sebagai Muslimah, kita memang di tempatkan pada posisi yang dilematis. Pada aturan tertentu kadang merasa menjadi sebuah ancaman pada keamanan kenyamanan ibadat kita, yaitu ancaman adanya poligami. Meski saya sadari jika sebuah aturan yang memang sudah ada pada kitab suci sangat tidak diperbolehkan untuk dilanggar.
Ah, tentu itu bukanlah bidang saya untuk membahas aturan dan tafsiran kitab suci. Tapi paling tidak, menjadi Muslim sejati bukan harus berpoligami dan menjadi Muslimah sejati tidak harus bersedia dipoligami.
Allah Maha Mengetahui,
Amal ibadah tentu juga bagian dari syarat kita menuju Surga-Nya, dan amal ibadah ajaran Allah sangat banyak jalan dan caranya yang tidak semata-mata poligami. Oleh karena itu, sebagai Muslimah , kita harus lebih banyak menjalankan ibadah sesuai ajaran Allah Swt, karena yakinlah bahwa tanpa dipoligamipun Muslimah dapat menjadi wanita solehah dambaan kita semua. Amin.
Sparkling Indonesia
Sunday July 27th 2008, 10:16 pm
Filed under:
Music
Sparkling Indonesia yang berlangsung semalam di gedung DTSP (Dewan Tuanku Syed Putra) USM cukup meriah. dengan tiket seharga RM 5, para penonton disuguhi aneka hiburan yang bernafaskan budaya kita. ada tari Saman yang dibawakan oleh mahasiswa dari President University Jakarta, tari Prawiro yang dibawakan oleh Pak Junaedi seorang mahasiswa Program Doktor bidang Farmasi dan 3 mahasiswi S1 yaitu Vega, Sabrina dan Nanda. kemudian, tidak ketinggalan saya dan suami juga ikut kontribusi dalam acara ini, saya, suami, Pak Sternly, Pak Wahyu dan Ibu Junita Batu Bara menyanyikan 2 lagu daerah, Apuse dan Ampar-ampar Pisang, juga 1 lagu kebangsaan, Indonesia Tanah Air Beta, lalu kami membalutnya dengan operet dan puisi. semua itu berkat arahan dari Ibu Junita Batubara, beliau calon Doktor dalam bidang seni.
Anak-anak kecilpun ikut juga mengaktualisasikan kebolehan mereka dalam tari Poco-Poco, sebab, orang tua mereka adalah para mahasiswa dari Indonesia di USM. Ini tentunya menambah hangat dan semarak suasana Sparkling semalam. Ada juga persembahan permainan Angklung, alat musik dari daerah Sulawesi yang dibawakan oleh para mahasiswa. Lalu disertai dengan hadirnya band dari mahasiswa kita dan band undangan dari Malaysia, The Times.
Dan kami benar-benar merasa senang dengan penampilan semalam. Hidup Indonesia!
Sterofoam Band
Friday July 25th 2008, 11:56 pm
Filed under:
Music
Wow, nanti sore kami gladi bersih untuk acara malam budaya. bukan deg-degan lagi yang rasa, sebab di Indonesia saya sudah terbiasa ‘manggung’. Hanya bedanya, besok kwartet dengan para calon Doktor, sedangkan biasanya di Jogja bersama kawan-kawan yang tergabung dalam Sterofoam band, dan kami terdiri dari 5 orang, 4 cowok dan 1cewek, saya sendiri tentunya.
Kata suami, itung-itung buat meluapkan rasa kangen bernyanyi saja. Ya, itu salah satu cara dia mendukung sebagian kegemaran saya. Pada dasarnya saya sangat ingin kembali Nge-Jamm dengan kawan-kawan, tetapi itu tidak mungkin untuk saat ini. Paling tidak yang membuat saya tenang adalah meski kami jauh, persahabatan tetap berjalan lancar. Jadi, saya yakin, jika suatu saat kami berkumpul kembali. Sterofoam akan hidup lagi.
Kemarin kami sudah hampir rekaman di Jogja, tapi karena saya harus segera berangkat ke Malaysia, terpaksa dibatalkan. Lagian ada juga personil lain yang sedang sibuk dengan skripsinya. mungkin memang belum rezeki kami. Tetapi kami tidak menyesalinya, karena mungkin ini adalah yang terbaik. Bagi kami, Sterofoam bukan sekedar band saja, melainkan cara kami mempererat tali silaturahmi persahabatan.
Jadi, Sterofoam ada di hati kami berlima setiap saat. Saya, Andi, Anang, Anwar dan Naufal. Selamanya!
Canda hapuskan Stigma
Tuesday July 22nd 2008, 8:43 pm
Filed under:
Travel
Happy juga pejalanan menuju KonJen kemarin tanggal 21 Juli, dalam acara pertemuan dengan Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Da’i Bachtiar, saya jadi tambah kenalan kawan-kawan suami. Sama sekali nggak nyangka kalo ternyata bapak-bapak bisa heboh juga ya? saya baru tahu itu.
baguslah, paling nggak, stigma bahwa hanya ibu-ibu atau cewek-cewek yang biasa heboh terhapuskan dengan tawa dan candaan bapak-bapak itu kemarin. sebenarnya itu bukanlah hal buruk atau berlebihan, sebab dengan seperti itu kami jadi lebih saling mengenal dan makin menguatkan rasa kekeluargaan, apalagi kami sama-sama jauh dari sanak keluarga.
okay, pertahankan kebersamaan dan kekeluargaan ini. Mahasiswa USM (Universiti Sains Malaysia) dari Indonesia cayo….!
Dari Adik, Keponakan, hingga anak kawan
Penang
Ahad, 20 Juli 2008
Sejak pagi hujan mengguyur, tak kencang tapi cukup deras
Hello Amel…,
Amel adalah anak kawan suami saya Pak Stenly, usianya hampir
6 tahun, baru sekolah TK b. Kemaren sore sekitar pukul 05.00 p.m Pak Stenly
sekeluarga datang ke rumah kami. Isteri dan anaknya memang baru datang dari
Bandung. Mereka membawakan kue kegemaran suami, kue Mayasari buatan Bandung.
Setelah setengah bulan kami tinggal di Taman Bukit Gambir
ini saya tanpa kawan, sekarang lega rasanya sebab ada isteri Pak Stenly dan
Amel tentunya. Sebenernya ada isteri Pak Allwar, Pak Noval dan masih banyak
lagi ibu-ibu dari Indonesia, tapi mereka tidak se-alamat dengan saya. Amel anak
yang manis, putih, rambut lurus dan bola mata yang masih bersih selayaknya
anak, bagai kertas putih yang belum tercoret tinta apapun, bahkan sebagai anak
yang baru kenal, Amel tergolong anak yang mudah akrab.
Suami saya sangat senang rupanya dengan kehadiran Amel.
Ya, dia memang selalu seperti itu jika ada anak kecil, kalau di rumah Jogja dia becanda dan bermain Catur dengan Gamma, 
si hitam manis, adik bontot saya, di Semarang dia
senang dengan Silvy si montok adik saya, di Madura ada Dini keponakan, di
Jakarta ada Sifa anak tetangga adik kami, semuanya cewek kecil yang montok dan
centil. Lain lagi jika di Kebumen, ada Diaurrohman dan Lana, mereka berdua
cowok-cowok ganteng yang menggemaskan adik sepupu saya.
Ya, mungkin karena kami belum juga diberi-Nya anak, jadi
maklumlah kalau kami sangat antusias dengan kehadiran adik, keponakan, hingga
anak kawan kami. Mungkin ini rasa yang berlebihan, tapi saya memaknai ini
dengan harapan agar rasa keibuan saya terasah sebelum Ahmad Jr kami menatap
indahnya dunia. Semoga.
Rahasia di balik Tom Yam
Jum’at,
18 Juli 2008
Penang
cerah,
Suara
burung saling beradu, Matahari sudah nampak, alam menandakan keceriaannya
setelah beberapa hari kemarin hujan terus mengguyur. Jemuranpun langsung saya
keluarkan semua, mumpung panas masih terjaga.
Semalam
kami dapat undangan makan malam di rumah Pak Halim, kawan suami, dia orang
Thailand. Sama dengan suami saya, Pak Halim juga sedang melanjutkan S3-nya. Dia
tinggal bersama isteri di rumah keluarga, rumah sewa milik kampus yang
diperuntukkan hanya bagi mahasiswanya saja. Awalnya kami juga ingin tinggal di
situ sebab harga sewa yang sedikit menguntungkan bagi kocek mahasiswa seperti
kami, tetapi sudah beberapa bulan yang lalu suami mendaftar belom juga mendapat
respon, dan bagi kami tidak masalah sebab ternyata bulan Agustus para penghuni
rumah keluarga harus pindah, mungkin akan direnovasi. Bahkan ternyata tinggal
di situ hanya dibatasi 1tahun saja.
Kami
datang pukul 09.20-an P.M, ucap salam dan ternyata sudah ada Che Mat dan
sepasang Japanese. Saya berkenalan, sebab saya baru bertemu mereka.
Suami-isteri dari negeri Sakura itu Muslim. Yang laki-laki sama juga dengan suami
sedang menempuh S3 di USM, Ahmad Genta namanya. Kamipun saling berbincang,
suamipun menceritakan bahwa disertasi mengenai pemikiran cendekiawan muslim
dari Jepang Toshihiko Isutzu. Kemudian datang pula kawan Malaysia dua orang,
saya lupa namanya,hik?!
Tidak
lama kemudian Isteri Pak Halim menyiapkan santap malam untuk kami.
Bermacam-macam masakan Thai tersaji di depan kami, tetapi yang membuat saya
tertarik adalah ikan asin asli dari Thailand. Memang bentuknya biasa saja
seperti layaknya ikan asin di negeri kita, tetapi rasa asinnya berbeda, sebab
asinnya sangat lekat. Ada juga daging masak merah selain menu-menu tambahan
lainnya, dan yang paling khas Thai adalah Tom Yam. Di Malaysia memang banyak
sekali restoran-restoran dan warung Thailand, yang pastinya di setiap tempat
tersebut terdapat Tom Yam. Itu memang sejenis sup kalau di Indonesia, hanya
saja pasta cabai langsung dicampurkan pada supnya, berbeda di negara kita,
tanpa pasta cabai tetapi sambal sebagai pelengkapnya.
Bicara
soal sup, saya adalah penggemarnya. Indonesia saja memiliki jenis sup yang
beraneka rasa. Percaya atau tidak, makan sup membuat tubuh saya terasa segar, he…he…,
ya tentu saja, sup kan berair dan disajikan panas,hik? Tentu tidak saya
lewatkan bertanya-tanya tentang cara pembuatan sup dari negeri Thai itu,
apalagi ini langsung dengan orang Thai asli bukan dengan juru masak negara
kita, karena bagaimanapun juga ada rahasia di balik setiap masakan, begitu juga
dengan masakan Nusantara.
Memang,
kebetulan siangnya, kemarin Kamis, 17 Juli saya masak Tom Yam dengan resep yang
saya dapatkan dari acara kuliner di Metro TV, rasanya memang agak beda dengan
yang saya makan di rumah Pak Halim semalam. Tanpa saya tanya mendetail, beliau
menceritakan bagaimana proses memasaknya. Ya, saya paham dengan penjelasan
beliau. Yang paling agak rumit adalah Tom Yam susu, sebab memasaknya harus
super terampil agar molekul susu tidak pecah. Jika pecah, rasa masakan akan
berubah bahkan bisa saja bau anyir susu tentunya, dan itu merusak cita rasa Tom
Yam tersebut.
Setelah
kenyang kami kembali bercerita sambil makan buah. Pak Halim meledek kawan
Jepang, kapan dia akan mengundang kami makan malam dengan menu khas Jepang.
Jawab Jepang itu, nantilah kami pikir-pikir dulu,ha…ha…? Tapi saya
senang caranya berbicara, dan sikapnya. Bagi kami terlihat sangat sopan, santun
dan tertata.
Memang, tadi malam terasa seperti malam-malam
sebelumnya, indah dan menentramkan. Bedanya, semalam saya mendapatkan ilmu
memasak tambahan. Maklumlah, namanya juga isteri harus banyak punya resep
masakan yang berbeda, supaya suami dan anak-anak nanti tidak jenuh dengan makan
menu yang itu-itu saja. Jika sudah beginikan tidurpun jadi lelap, dan tengah
malam kami bangun untuk menunaikan sholat Isya’ dan Tahajud. Damai.
Memberi Makna pada Perjalanan
Wednesday July 09th 2008, 1:27 am
Filed under:
Travel
Setelah saya baca separuh buku Menyusuri Lorong-lorong
Dunia karya Sigit Susanto, saya mulai merasakan betapa pentingnya menulis
setiap apa yang pernah kita rasakan dan jalani. Bagi saya, setidaknya hal itu
dapat menjadi cerita pada anak cucu kita nantinya. Pengalaman adalah guru yang
paling baik. Perjalanan yang panjang dan beraneka warna, tentu akan menambah
pengalaman kita. Artinya, ilmu kita akan bertambah sesuai dengan apa saja yang
pernah kita rasa dan saksikan. Sebab, ilmu tidak hanya bisa di dapat dari teori
dalam kelas saja, melainkan lingkungan dan alam sekitar menjadi sumber ilmu
yang tak terhingga.
Perjalanan saya dari Jogja ke Jakarta hingga ke Pulau Penang
Malaysia untuk yang kedua kalinya, tentu memiliki banyak cerita. Saya pun
merasakan pengalaman yang berbeda pada setiap rute yang saya lalui. Tidak
terasa, tentu ada ilmu yang saya dapat petik dari jalur itu. Salah satunya
adalah untuk yang pertama kalinya saya naik pesawat dengan suami. Ternyata
berdua memang lebih terasa tentram, sebab saya orang yang agak ngeri dengan
ketinggian. Bisa saja orang akan mengatakan saya ‘ndeso’ karena setiap naik pesawat, sejak take off
hingga landing mulut saya tidak henti-hentinya komat-kamit memanjatkan
do’a. Mungkin jika saja saya sempatkan untuk mengaca, muka saya terlihat kacau,
pucat ataupun terlihat ketakutan. Beruntung saat bermuka pasi tidak bertemu
dengan teman, saya yakin mereka akan tertawa tak habis-habisnya. Sebab selama
ini mereka pikir saya bukan sosok penakut.
Sigit Susanto ternyata juga merasakan hal serupa saat di
pesawat. Saat saya membaca baris itu lega rasanya, ternyata ada yang merasakan
hal yang sama tapi tak serupa. Dia memegang jari-jemari isterinya saat pesawat
akan mendarat. Menurutnya, hal itu seakan menjadi suplemen untuk kekuatannya
dalam menghadapi kerasnya dentuman jantung yang semakin menjadi kala itu. Padahal
sudah berkali-kali saya naik pesawat sendirian, tidak hanya 1 atau 2 kali saja,
tapi tetap saja miris rasanya. Apalagi jika ada berita kecelakaan pesawat di
TV, wow, itu makin menghanyutkan saya pada kengerian yang teramat. Naudzubillah.
Ilmu yang dapat saya petik dari perjalanan pertama saya naik
pesawat bersama suami adalah bahwa saya merasakan ketenangan batin yang selama
ini hilang saat naik pesawat sendirian. Bahkan saya bisa leluasa makan, baca,
hebatnya lagi saya sering nengok ke bawah lewat jendela. Maksudnya, ketakutan
dapat terobati saat jiwa merasa aman, bagaimana merasakan keamanan itu? Itu
dapat kita peroleh saat kita menemukan ketentraman hati. Dan ketentraman hati
saya adalah saat bersama suami.
Bagaimana dengan anda? Sebab, ketentraman hati setiap
manusia berbeda cita rasanya.
Ulekanku, di mana?
Seperti biasanya, hari ini lagi-lagi saya dihadapkan pada
pekerjaan rumah. Mencuci, memasak, dan mandi….? Kadang saya memang malas mandi.
Bahkan kemarin saat masih di rumah Jogja, pagi mandi sore tidak? Ha…ha…?!
padahal saya termasuk orang yang beruntung, sebab tinggal di daerah banyak air.
Saya tidak harus jalan berkilo-kilo meter hanya untuk mendapatkan seember air
bersih. Saya jadi ingat saat Kuliah Kerja Nyata (KKN), di daerah Bantul, tepatnya Kecamatan Dlingo.
Meski terbilang tidak terlalu susah mendapatkan air bersih, tapi air itu
mengalir tidak sederas di rumah. Saya harus menunggu berjam-jam jika akan
mandi, sebab saya kurang mantap rasanya jika mandi dengan setengah bak air.
Tadi setelah semua pekerjaan rumah selesai, saya langsung
mandi. Enak memang, tapi setelah berganti pakaian, koq lama-lama ngantuk ya….?
Padahal katanya mandi bikin segar? Saya bawa baca Sigit Susanto dalam karyanya Menelusuri Lorong-Lorong Dunia 2, e….. palah makin ngantuk?
Nulis aja ah…?!
Laper juga sech sebenernya, tapi kurang mantap rasanya jika
makan sendiri tanpa suami. Lebih baik saya tahan dan menunggu dia sejenak. Saya
juga merasa kurang puas dengan hasil masakan saya sejak di sini, meskipun
suamiku bilang enak, tapi koq saya tetap tidak percaya ya? Sebab lidah saya
menyatakan kurang enak? Ha…ha…? Proses pemberian bumbunya kurang mantap, sebab
tidak ada ulekan. Jadi saya memasak apa adanya yang ada di lemari es. Coba saya
bisa sepintar ibu dalam memasak ya? Ibu bisa memasak apa aja, meski gak ada
ulekan, tapi masakan ibu bisa terasa mantap? Mungkin tangan ibu yang memang
ajaib kali ya?