Batu Feringghi and Culinery
Kemarin, Senin
26 Agustus 2008, kami pergi bersama Bang Supian ke Pantai Batu Feringghi.
Berangkat petang sekitar pukul 05:00 p.m dari rumah kami di Taman Bukit Gambir.
Ya, kami memang sama-sama tinggal di satu lokasi, hanya berbeda lantai. Dengan
menggunakan kereta(mobil) Proton Waja milik Bang Supian, kami meluncur dengan nyaman dan menyenangkan.
Menyenangkan,
pastinya, karena saya jadi makin tahu wajah Penang yang lain, tidak hanya di
sekitaran USM saja. Sebelum ke tujuan awal, kami mampir ke pasar tradisional
Chorasta, rencananya kami mencari ulekan(ciri+muthu) atau orang Malay bilang
lesung. Saya dan suami saja yang keliling mencari, sedang Bang Supian menunggu
saja di kereta sambil melakukan kegemarannya, yaitu merokok.
Sayangnya,
lama kami putar-putar, keliling pasar, tidak juga mendapatkan. Memang kemarin
kami kesorean, jadi sudah banyak pedagang yang tutup. Kami pun lalu menuju ke
semacam market yang berada pas di depan pasar Chorasta, Mydin namanya. Kami masuk,
tetapi lagi-lagi tidak juga kami temukan yang namanya lesung. Pikir kami, yang
penting nyarilah, dapat atau tidak itu urusan nanti. Memang, tanpa barang itu,
kami jadi tdak dapat masak sesuai dengan selera, padahal jika beli di luar,
tentu rasa masakannya berbeda dengan lidah kita. Sebab saya ingin masakan yang
biasa saya makan sewaktu di Jogja, masakan ibu yang bagi saya sangat nikmat
tiada terkira. Misalnya saja; Sop Bakso Tahu, Sop Tahu Isi daging, Soto Madura,
Sambal Goreng hati, pokoknya macam-macamlah masakan ibu yang super duper lezat
itu. Lalu yang menghalangi saya merasakan semua masakan itu adalah ketiadaan
lesung tersebut, tanpanya, mana bisa membuatnya, kalau pakai blender, rasanya
berbeda, tidak selezat pakai lesung.
Repot
memang, tapi ya gimana lagi, memang saya harus menahannya. Lalu kami
melanjutkan perjalanan ke Batu Feringghi, jalannya berkelok-kelok, tapi syukur
baby Zough dalam rahim saya tidak rewel. Anak manis memang dia, sebab setiap di
luar rumah, dia tidak membuat saya mual. Kira-kira setengah jam kemudian kami
sampai di tempat tujuan. Tapi kami tidak sampai bermain air laut, melainkan
makan di restoran The Ship, namanya juga The Ship, jadi
bentuknya-pun kapal, dan semua waitres-nya berpakaian ala anak buah
kapal. Pengunjungnya sedikit, hanya orang-orang tertentu saja memang,
kebanyakan mereka touris barat. Seperti pelayanan di restoran-restoran
ala hotel lainnya, bagi saya sama saja. Yang membedakan hanya lokasinya saja,
sebab dia berada di pinggir pantai, jadi kita dapat sekalian menikmati deburan
ombak lembut.
Pemilihan
tempat nongkrong yang asyik memang, sebab dari dalam kami dapat melihat
laut yang ada tepat di belakang restoran. Kami pun pesan makan, ternyata selera
kami sama, sebab kami sama-sama pesan steak. Makan malam yang cukup indah,
bukan?
Lumayan lama
kami berada di situ, sambil ngobrolin segala macam pengalaman kami
masing-masing. Tak terasa masuk waktu maghrib, lalu kamipun beranjak keluar
untuk mencari masjid terdekat, menyembah dan berterima kasih pada yang Maha
Memberi Kenikmatan. Gerimis mengguyur Batu Feringghi, tapi memang tidak terlalu
besar, tapi cukup membasahi bumi dan penghuninya.
Setelah
sholat, kamipun beranjak pulang, karena tidak mungkin gerimis begitu kami ke
pantai. Bang Supian memang menawarkan kami untuk jalan-jalan di sekitar situ,
sebab ada banyak orang jualan bermacam-macam cendera mata hingga baju. Suami
yang tadinya akan beli CD, tidak jadi sebab khawatir saya kelelahan. Akhirnya
kami langsung pulang saja, perjalanan yang nyaman, tertawa dan becanda. Setelah
memasuki lingkungan USM, Bang Supian mengajak kami singgah sebentar di restoran
India, Istimewa, tempat biasa kami duduk-duduk menikmati sore. Katanya minum
hangat dulu, supaya sampai di rumah saya tidak perlu buatkan suami minum
hangat. Ha..ha..? ada-ada saja. Padahal biasanya justeru saya yang dibuatkan
minum oleh suami, ya, suami saya memang sangat perhatian, apalagi sejak saya
hamil, makin perhatiannya.
Okay, setelah minum lalu kami pulang.
Thank’s for
Bang Supian, The Ship Restoran and Batu Feringghi.
See u..
Musisi kita disebut Kudis dan Sampah
Tuesday August 19th 2008, 11:45 pm
Filed under:
Music
Pesta Malam Indonesia yang diadakan di Kuala Lumpur pada tanggal 16 Agustus 2008 kemarin ternyata mampu meluapkan pendaman kekesalan musisi lokal. Pagi harinya, tanggal 17 Agustus, tepat HUT RI, koran nasional Malaysia harian Utusan benar-benar menuangkannya. Awalnya saya tahu berita tersebut dari suami yang selalu menyempatkan diri membaca koran lewat internet. Rasa penasaran sayapun muncul dan betapa mengerikannya kalimat yang dilontarkan oleh penulis tersebut mengenai keberadaan musisi kita di negerinya.
Keberhasilan Slank, Ungu, Sheila on7, Samson’s, dan Dewi-dewi malam itu mengundang nada sengit yang teramat. Bahkan dalam tulisan tersebut musisi kita di Malaysia disebutnya kudis dan sampah. Bagi mereka, keberadaan musisi kita di Jiran mengganggu stabilitas daya jual musik mereka.
Yang membuat saya merasa aneh adalah ungkapan yang sudah terlanjur dilontarkan bagi musisi kita. Mengapa Malaysia begitu benci hingga berkata kasar sedemikiannya? Tentunya akan lebih parah karena dapat menjadi tambahan permasalahan antara kedua negara yang serumpun ini.
Dalam wawancara TV3 dengan Pasha Ungu, vokalis itu mengatakan " kalau dahulu di tahun 80-90an musisi Malaysia mewarnai dunia musik Indonesia, musisi Indonesia senang-senang saja, palahan dengan adanya mereka itu menambah semangat musisi kita membuat karya yang lebih baik lagi". Bagi saya jawaban Pasha itu baik sekali, sebab paling tidak itu seharusnya dapat membuka mata musisi negeri Jiran yang mendengarnya. Ada pula komentar dari Duta, vokalis Sheila on7, katanya " Musik itu enak jika ringan, jadi tidak perlu dibawa berat, supaya keindahan dari musik itu dapat dinikmati". Duta benar, untuk apa membawa berat persoalan musik jika justeru tidak dapat menikmatinya?
Hugh…. ada saja permasalahan yang timbul. Bagi saya, keberadaan musisi kita yang sering konser di Malaysia itu wajar saja, sebab promotor yang mengundang mereka tentunya tidak mau merugi jika mengundang musisi yang kurang peminatnya. Dan kebetulan musik kita mendapat respon yang sangat baik di Malaysia.
Padahal musisi dan artis Malaysia yang mencari nafkah di Indonesia tidak pernah dipersoalkan. Tidak masalah, sebab musisi kita memiliki pola pikir yang jauh lebih maju dan terbuka atas persaingan yang sehat. Semoga Indonesia berjaya. Piss!
About Pompy, Blanco and Pyco
About Pompy, Blanco and
Pyco
Kamis, 14 Agustus 2008
Kemarin sore saya sudah
sedikit lega dan bahagia atas berita dari keluarga Jogja lewat sms yang
menyatakan bahwa ternyata Blanco, kucing betina milik adik saya Gamma
melahirkan anak Pompy yang paginya mati. Awalnya oleh ibu dikira suara tikus,
setelah dilihat ternyata bayi kucing. Menurut berita dari adik saya, bayi
kucing itu sangat mirip bapaknya, si Pompy. Warna bulunya yang berdasar putih
dan bercorak hitam, membuat saya mengimajinasikannya seperti Pompy. Masih
menurut berita dalam sms, ekornya pun sama dengan bapaknya. Semakin bahagia
saya mendengarnya, ada darah Pompy yang mengalir di bayi kucing itu. Kata suami
saya, betapa hebatnya Pompy, dalam masa hidup yang hanya kurang lebih 2,5 tahun
dia ternyata memikirkan generasi penerusnya.
Ya, benar juga ucapan
suami saya. Beruntung di rumah ada kucing lain, tidak hanya si Pompy, tetapi
juga ada Blanco, kucing betina berwarna hitam yang sorot matanya tajam. Awalnya
ibu tidak suka dengan kehadiran Blanco, sebab dia betina dan menurut ibu tidak
‘cantik’. Tetapi berhubung adik saya yang paling bontot ngrengek minta supaya
ibu membolehkan memeliharanya, terpaksa ibu mengabulkan permintaan si bontot
Dik Gamma. Kini kehadiran Blanco terasa berarti dengan kematian Pompy dan
kehadiran bayi Pompy melalui rahim Blanco. Kalau tidak ada Blanco tentu tidak
akan ada generasi Pompy.
Dik Ana yang selalu sms
memberi kabar tentang Pompy meminta saya mencarikan nama yang bagus untuk bayi
kucing itu. Tidak perlu lama saya mendapatkan nama untuknya, dengan
menggabungkan nama Pompy dan Blanco, akhirnya mendapatkan nama Pyco. Karena
nama awal Pompy adalah Marcello, jadi Pyco menjadi Marcello Pyco. Nama yang
bagus bukan? Dan mulai sore itu terbentuklah silsilah keluarga Marcello.
Kebahagiaan itu tidak
kekal
Alloh
maha Adil dan bijaksana, jika Dia berkehendak tentu itu adalah jalan yang
terbaik bagi umatnya. Subuh tadi kami kembali mendapat berita menyedihkan dari
Jogja, betapa tidak, bayi Pyco yang kami harapkan menjadi penerus Pompy mati.
Kata Dik Ana, Pyco dikuburkan bersebelahan dengan bapaknya.
Tentunya
kesedihan ini semakin menjadi ketika harapan mulai tumbuh dan dengan seketika
sirna. Tapi apa mau dikata, kami harus ikhlas, karena mungkin ini jalan yang
terbaik bagi Pyco. Sekarang tinggal Blanco si betina yang ada di rumah, tanpa
anak dan suaminya. Mungkin jika Blanco manusia, dia lebih merasakan sedih yang
bertubi-tubi dibandingkan kami majikannya. Kasihan, padahal mereka
bukan kucing yang nakal, mereka manis dan menggemaskan.
Meski hanya kucing temuan pada mulanya, tapi
Pompy berwajah kucing Persia, badannya pun sangat mirip, orang-orang yang
melihatnya selalu gemas, dan mereka pikir Pompy kucing mahal. Tapi bagi kami
itu pandangan yang benar, Pompy memang mahal, bahkan sangat mahal, karena
berapapun orang akan membelinya tidak akan kami lepaskan. Jika kini kami lepas,
itu karena dia kembali pada pemilik dan penciptanya, Alloh Swt.
-
Marcello Pompy dan Marcello Pyco, We Love u.
Marcello Pompy-ku sayang
Marcello Pompy
Penang, Rabu, 13 Agustus 2008
Pagi ini mual kembali saya rasakan, tapi tidak terlalu saya hiraukan, sebab sudah seperti pagi-pagi yang lalu, morning sick. Supaya sejenak rasa itu hilang, saya bawa tidur lagi. Tapi belum lama saya terlelap, handphone berdering tanda sms. Dibuka sms itu oleh suami saya, disampaikannya isi pesan itu pada saya. Katanya kabar dari keluarga Jogja disampaikan oleh Dik Hanny adik saya, dia bilang Pompy kucing kesayangan kami mati.
Betapa kagetnya saya, sedih pula rasanya. Bagi keluarga kami di Jogja, Pompy bukan hanya kucing biasa, dia luar biasa, menggemaskan dan bisa memahami apa yang kami suruh sesuai dengan kemampuannya sebagai kucing. Tepatnya sudah seperti anak bapak dan ibu saya, bahkan dia anak kesayangan. Warna bulunya putih dan hitam bulat-bulat pada tubuhnya. Bahkan pada bagian perutnya sebelah kiri, bulatan hitam seperti bentuk love. Pompy gemuk sekali, sampai-sampai ibu saya merasakan berat jika gendong dia. Dia juga sangat penurut.
Pompy, kami semua sungguh sayang kamu, semoga kamu tenang dan mendapatkan kehidupan yang lebih bahagia dari pada di dunia.
Kisah Marcello Pompy
Saat itu liburan akhir sekolah, pagi-pagi setelah sholat subuh, digunakan adik-adik saya, Dik Ana, Dik Sultan dan si bontot Dik Gamma untuk jalan-jalan. Menapaki jalan aspal sepanjang selokan Mataram, mereka melakukan dengan ceria, bersama cucu tetangga kami, Desi dan Tria.
Ketika sampai di perempatan jalan, masih di sekitar selokan Mataram, mereka melihat kurang lebih lima bayi kucing yang sepertinya belum lama lahir dan dibuang pemiliknya. Oleh Dik Ana diberinya mereka makanan, tetapi mereka diam, katanya hanya satu kucing yang mau mendekat makan dan bersahabat. Kemudian dia ambil kucing yang bersahabat itu, sedangkan Desi dan Tria mengambil dua dari lima bersaudara itu. Sisanya dibiarkan, sebab setelah sampai rumah, adik-adik izin pada ibu untuk memelihara kucing-kucing itu, tapi oleh ibu hanya diberi izin memelihara 1 saja dan kucing harus jantan, sebab kata ibu kalau betina nanti beranak melulu, ha..ha..? Lalu oleh ibu kucing itu dicek, syukur, katanya itu kucing jantan. Recananya jika boleh, akan adik-adik ambil semua sisa kucing itu, kasihan katanya.
Langsung saya suruh Dik Ana beli susu Dancow, kami suapi dia dengan rasa senang dan sayang. Kucing itu ternyata lincah sekali, Dik Gamma bilang, kasian kucing itu, tidak punya bapak dan ibu. Lalu dia tanya pada ibu, kalau ibu jadi ibunya kucing itu mau tidak? Kontan ibu saya kaget, dan tentunya gemes ada si bontot itu. Ibu jawab mau, diakan juga makhluk Alloh, sama seperti kita, hanya, kita manusia punya akal budi dan makhluk Alloh paling sempurna. Adik-adik terlihat amat gembira mendengarnya. Lalu kami berunding akan dinamai siapa, adik-adik mengusulkan diberi nama Pongky, sebagai pengganti Pongky kucing kami sebelumnya, yang hilang entah kemana. Tapi saya tidak setuju, bagi saya, biar nama Pongky sebagai kenangan. Biar tidak terlalu jauh dari nama Pongky, kita namai saja Pompy. Spontan adik-adik setuju semua, kata mereka nama yang bagus. Nama panjangnya MarcelloPompy.
Beberapa bulan berjalan, Pompy semakin menggemaskan, gemuk dan lucu. Bagaimana tidak gemuk, kerjanya cuma makan, tidur, mandi. Makanannya pun istimewa, dia tidak mau makanan instan, dia hanya mau makan dengan bandeng atau ikan, dan yang mengherankan lagi, dia tidak suka ikan mentah, hanya mau yang matang. Setiap bulan untuk makanan Pompy saja bapak menyediakan dana kurang lebih Rp 100.000. Untuk urusan mandi, hanya ibu yang mampu memandikannya. Dia juga amat penurut pada ibu, jika kami yang memanggilnya, dia kadang diam saja, seakan cuek, tetapi lain jika ibu yang memanggil, dia langsung lari mendekat. Padahal kami juga sangat sayang dia.
Pernah suatu ketika penjual sayur langganan kami, Mbak Parti, kehabisan stok bandeng. Padahal makanan Pompy habis, kebetulan kami nyari kemana-mana juga habis, Pompy seharian tidak mau makan. Dikasih telur, ayam, ikan jenis lain, tidak dia makan. Malam harinya bapak coba beli cakar ayam di angkringan, tetap saja dia biarkan cakar ayam itu. Akhirnya sehari-semalam dia tidak makan. Lemas, tiduran terus dia.
Paginya, ibu ke pasar dengan bapak lebih awal demi Pompy. Akhirnya dapat juga bandeng kesukaan Pompy, dia langsung makan dengan lahapnya. Pompy, Pompy, manja juga kamu!
Pompy juga punya kursi istimewa, tempat dia tidur dan duduk. Dia aneh memang, pasalnya, posisi tidurnya seperti manusia, telentang dan bersedekap!
Anehkan? Mana ada kucing yang tidur bersedekap?!
Kursi warna merah. Pernah kursi itu diduduki oleh Dik Ana, dia meang-meong seperti mengusir Dik Ana, kata ibu, kamu jangan duduk di situ, itu singgasana Pompy? Ha..ha..? Benar juga, ketika Dik Ana pindah tempat duduk, langsung Pompy naik dan tidur di kursi itu sambil sebelumnya jilat-jilat seluruh tubuhnya.
Oh Pompy…
Banyak kenangan indah bersamanya. Termasuk ketakutan kami saat tiba-tiba semalaman dia tidak pulang ke rumah. Kini.. kami harus kehilangan dia untuk selamanya. Betapa sakitnya hati kami, karena kematian Pompy tidak wajar. Bayangkan saja, dia mati karena 4 hari yang lalu dia pulang ke rumah dengan kaki yang terluka, lalu dia tidak mau makan dan minum. Lalu tadi pagi kabar itu sampai pada kami di Malaysia. Kami tau, luka di kakinya itu adalah luka hantaman benda tajam atau keras. Tapi kami tidak akan menuduh siapa yang berbuat, hanya heran, jika pelakunya manusia, betapa tega dia. Hilang sudah hati nuraninya. Semoga Alloh memberi balasan pada orang yang menganiaya Pompy kami. Jika Pompy melakukan kesalahan, hendaknya diusir saja sudah cukup, tidak perlu hingga aniaya dia, sebab kerugian apapun pasti akan bapak ganti padanya demi keselamatan Pompy. Tapi kini, semua sudah terlambat, kucing kesayangan kami sudah tiada.
Pernah suatu ketika Pompy makan ikan goreng di rumah tetangga, sebab ikan itu ditaruh dilantai olehnya. Tetangga marah-marah di rumahnya sendiri, tapi orang tua saya menyadari, kalau Pompy adalah tanggungjawab kami, maka diganti ikan goreng itu oleh bapak dengan uang yang jumlahnya lebih besar dari harga ikan itu, tetangga sayapun diam dan kembali tersenyum. Ini adalah salah satu contoh betapa sangat berartinya Pompy bagi kami.
Pompy.. baik-baik ya..
Kami akan selalu mengenangmu..
Jangan takut, di sisi Alloh kamu akan jauh lebih bahagia. Kamu akan tentram dan aman, tidak akan ada yang menyakitimu sayang..
Marcello Pompy, I love u so much, Forever!
Hai.., Welcome to The World, Baby!
Hai..,Welcome to The World, Baby!
Penang, Jum’at, 08-08-08|
11:46 a.m
Baru saja kami sampai rumah, segera saja saya buka laptop ini dan menulis. Ingin segera meluapkan jawaban dari kegelisahan yang saya rasa selama ini.
Saya ingin sekali menangis tadi, tapi masih ingat malu karena di tempat umum. Saya khawatir orang pikir kami sedang berantem, padahal sebaliknya. Tadi kami ke Dokter Akbar Ali, setelah beberapa pertanyaan dilontarkan dan tekanan darah diperiksa, urine sayapun tidak luput dari padanya. Kami diminta menunggu sejenak hasilnya, beberapa menit kemudian saya dipanggil, karena saya masuk sendiri, Dokterpun menanyakan mana suami saya, sebab pada pertemuan awal tadi suami ikut masuk. Saya panggil suami.
Macam-macam nasehat dokter, kemudian setelah itu dia memperlihatkan sejenis tanggalan berbentuk bulat. Kata dokter Akbar saya positif hamil! Betapa terkejutnya saya, serasa dunia saya genggam erat. Suamipun tertawa dan kami berucap syukur. Katanya baby kami sudah berusia 5 minggu. Bahkan karena saking terkejutnya, saya tanya lagi pada dokter apakah berita ini serius? jawaban dokter ya, serius hamil.
Wow, ini yang sangat kami nantikan setelah 2,5 tahun menikah. Kamipun langsung telpon mengabarkan berita bahagia ini pada keluarga di Indonesia. Ya, semua bahagia dan bersyukur. Amin.
Menepis Kegundahan
Ciluk.. Ba…
he..he..?
Hai.., Allow..?
Wow, lagi-lagi hari ini saya maseh deg-degan menanti kepastian hadirnya buah hati. Duh, semoga dia benar-benar hadir. Kami menantinya dengan suka cita. Doain ya…?
Sengaja saya menepis kegundahan itu dengan menulis untuk surat kabar. Membicarakan kasus yang saat ini sedang banyak diperbincangkan orang. Kasus pembunuh berdarah dingin, Ryan.
Sekarang Ryan sudah tidak asing lagi bagi sebagian masyarakat kita, wajahnya terlukis jelas dalam mata para pemirsa televisi. Kebengisan dan tiadanya rasa kemanusiaan membalut jiwanya, menghapus segala sifat luhur dan ilmu yang pernah didapatnya, terutama ilmu agama.
Hukuman apa yang akan diberikan oleh dunia padanya? Sebab hanya itu yang dapat kita perbincangkan kini, karena tidak mungkin bukan jika kita memperbincangkan hukuman bagi Ryan di Akherat, sedang kita sendiri juga tidak tahu bagaimana wajah dan bentuk Akherat. Wallohua’lambissawab.
Alloh menciptakan umat memang sangat beraneka macam sifat dan perangainya. Oleh karena itu bagaimana kita menyikapinya tentulah menjadi jalan dalam proses kerukunan antar umat. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini selain Nabi Besar kita Muhammad Saw. Begitu juga dengan Ryan, dia hanya manusia biasa yang dalam ketidak berdayaannya justeru semakin terjerumus dalam kenistaan. Naudzubillahi Mindzalik.
Di sini saya tentu tidak akan menghakiminya dengan melihat kejahatannya. Menurut hemat saya, satu sisi kita bicara kondisi Ryan sebagai gay adalah bahwasannya hal tersebut bisa saja salah satunya karena bentuk dari ketimpangan sosial yang dialaminya, yang kedua karena faktor lingkungan pergaulannya, dan yang ketiga faktor kurangnya perhatian psikologis dari kedua orang tuanya.
Gay menjadi persoalan yang rumit untuk diterawang, pasalnya, keadaaan itu bisa dari realita kehidupan ataupun hanya sekedar gaya hidup, terutama bagi masyarakat perkotaan. Harapan saya semoga para pengikut kaum Nabi Luth yang dulu pernah dikutuk Alloh Swt, akan segera sirna dari muka bumi ini. Amin.
Okay, udah ya..,
kalau terlalu banyak ngomongin Ryan nanti jadi gosip dech..?
Oya, sore ini kami ke Gelugor untuk belanja dapur. Asyik, dapet ikan Tongkol.
I like it.
Nasi Lemak Lantai 8
Allow…
Penang panas
nech, bahkan sudah sejak semalam. Tapi seneng juga sech.., sebab cucian bisa
cepat kering. Beberapa hari ini kondisi badan kurang enak, entah karena apa
saya sendiri juga bingung. Padahal makan dan istirahat sudah cukup, bahkan
lebih. Tapi gak papa, yang penting tidak sakit yang berlebihan, hanya kurang
enak saja. Mungkin ada faktor lain yang membuat saya seperti ini, tetapi saya
belum berani memastikannya, sebab belum cek ke dokter ataupun pakai testpack.
Makanya, meski tidak enak badan tetapi saya merasa
bahagia, sebab sedang menanti kepastian akan adanya generasi penerus kami.
Tentunya ini hal yang sangat menggembirakan kami, pasalnya sudah 2,5 tahun kami
menikah belum juga dikaruniai anak. Semoga kali ini kami diberkahi dan
diberi-Nya anak yang sempurna jasmani dan rohani, serta soleh ataupun solehah.
Amin Yaa Rabbal’alamiin.
Nasi Lemak Tetangga
Tadi pagi saya kembali merasakan ketidak pastian kondisi
tubuh, tidak jelas apa yang dimau. Akhirnya suami punya ide membeli nasi lemak
di bawah. Sebenarnya sudah lama dia ingin mencicipi nasi khas Malaysia yang
dijual oleh Mak Cik itu, tetapi baru tadi pagi kesampaian. Kata Pak Stenly, kawan
suami yang tinggal di lantai 15, Mak Cik itu tetangga kami, dia juga tinggal di
lantai 8, hanya katanya nomor 5, kalau kamikan nomor 15. Tentu Pak Stenly tahu,
sebab ternyata dia sudah berlangganan setiap pagi membeli nasi lemak untuk
sarapan dia dan keluarganya. Ya, nasi lemaknya cukup enak, memang beda dengan
yang kami beli di Khaleel, restoran India itu. Maklum, namanya juga nasi lemak
buatan orang Melayu, pastinya donk beda dengan buatan orang India. Buatan Mak
Cik nasi lemaknya terdiri dari nasi, kuah sayur merah dan ikan gembung. Jika di
Khaleel, nasi, kuah kari, teri, dan telur rebus setengah. Salah satu yang
membedakan rasa adalah jenis kuahnya.
Benar juga ide suami, setelah makan nasi lemak terasa
agak nyaman badan ini. Padahal sebelumnya perut sudah terasa penuh, tapi maunya
memang makan terus, nafsu makan bertambah. Beruntung tidak inginkan makan yang
aneh-aneh.
Bayar Sewa Rumah
Hari ini rencananya suami akan bayar sewa rumah dan
listrik, kalau istilah di Malaysia elektrik. Ya, tentunya setiap bulan kami
mengeluarkan uang untuk membayar semua itu, rumah, listrik/elektrik, dan air.
Seperti halnya para penghuni yang lain. Hanya memang tagihan air bulan ini
belum datang, jadi kami belum bayar. Biasanya semua tagihan yang datang masuk
dalam kotak pos yang tersedia di lantai dasar di pinggir tepat ke arah pintu
keluar, di situlah letak kotak surat berada bagi setiap rumah. Setiap kotak
memiliki kunci dan nomor sesuai dengan nomor rumah, dan tentunya hanya penyewa
rumah yang sesuai dengan nomor kotak yang boleh membukanya.
Maklum, namanya juga hidup di negeri orang, jadi sewa
rumah adalah jalan biasa. Kawan-kawan suami yang juga mengambil S3 di USM juga
demikian, ada juga masyarakat Malaysia asli yang tinggal di kawasan kami.
Masyarakat sini memang sepertinya lebih suka tinggal di rumah susun, apartemen,
ataupun kondominium dan sejenisnya. Mungkin mereka pikir itu lebih praktis,
ketimbang tinggal di suatu pemukiman atau desa atau juga perumahan. Meskipun
tentunya ada banyak masyarakat yang tinggal di desa atau juga perumahan.
Setiap
tanggal 5 kami membayar sewa rumah, dengan cara mentransfer uang lewat bank ke
nomor rekening pemilik rumah. Makanya, kamipun tidak pernah kenal pemilik rumah
sewa kami, sebab pembayaran dilakukan lewat rekening, paling hanya tahu nama
dan alamat rumahnya saja. Maklum, kita sudah hidup di zaman yang serba mudah.
Okay,
rasanya sekian dulu ah…
Sudah mulai
ngantuk dan lemas lagi nech, padahal ini baru menjelang siang, sebab baru pukul
10.07 a.m. Tapi saya harus menuruti keinginan ini sebab kalau tidak bisa-bisa
saya sakit seperti kemarin. See u..
Aktivitas hari ini
Hai..
Hari ini saya ke kampus suami bersamanya, tepatnya kami ke bilik Karel atau ruang komputer. Saya buka internet di sana, daripada di rumah sendirian. bukan bosan di rumah, tapi hanya ingin mendapatkan suasana lain, ingin menghirup udara luar, dan tentunya pemandangan yang berbeda.
Menuju Karel melewati danau kampus, di pinggir-pinggir jalan penuh dengan pohon-pohon rindang, aktifitas mahasiswa yang tidak begitu ramai karena ini penghujung minggu, membuat perjalanan terasa makin menyenangkan. Sayangnya kami lupa membawa roti kadaluarsa untuk makan ikan-ikan di danau itu. Tapi tidak apa-apa, sebab masih bisa nanti sore ataupun besok.
Hari ini memang saya tidak memasak, sebab badan terasa kurang enak, jadi kami nanti makan di luar. Lagian bahan-bahan mentahnya juga sudah menipis. Oya, nanti sore saya sudah membuat janji dengan Mbak Troy, isteri kawan suami, Pak Stenly. Kami akan ke pasar malam di Sungai Dua bersama-sama dengan naik mobilnya, biar praktis katanya.
Si Mbak memang katanya belom pernah belanja ke pasar malam. Saya yang kemarin waktu main ke rumahnya cerita, kalau belanja di Pasar malam Sungai Dua lebih murah. Siapapun ibu rumah tangga pasti penasaran jika mendengar tempat belanja yang murah, dan mungkin begitu juga dengan si Mbak.
Si Mbak tanya biasanya saya dan suami berangkat belanja jam berapa, lalu saya jawab jam 8.00 p.m. Jadi kami nanti berangkat sekitar jam tersebut. Balanja memang salah satu hal yang menyenangkan bagi kaum wanita kebanyakan. Belanja apa saja, apalagi belanja fashion atau perhiasan, pasti lebih banyak lagi wanita yang suka itu.
Shooping must go on.