Filed under: Uncategorized
About Pompy, Blanco and
Pyco
Kamis, 14 Agustus 2008
Kemarin sore saya sudah
sedikit lega dan bahagia atas berita dari keluarga Jogja lewat sms yang
menyatakan bahwa ternyata Blanco, kucing betina milik adik saya Gamma
melahirkan anak Pompy yang paginya mati. Awalnya oleh ibu dikira suara tikus,
setelah dilihat ternyata bayi kucing. Menurut berita dari adik saya, bayi
kucing itu sangat mirip bapaknya, si Pompy. Warna bulunya yang berdasar putih
dan bercorak hitam, membuat saya mengimajinasikannya seperti Pompy. Masih
menurut berita dalam sms, ekornya pun sama dengan bapaknya. Semakin bahagia
saya mendengarnya, ada darah Pompy yang mengalir di bayi kucing itu. Kata suami
saya, betapa hebatnya Pompy, dalam masa hidup yang hanya kurang lebih 2,5 tahun
dia ternyata memikirkan generasi penerusnya.
Ya, benar juga ucapan
suami saya. Beruntung di rumah ada kucing lain, tidak hanya si Pompy, tetapi
juga ada Blanco, kucing betina berwarna hitam yang sorot matanya tajam. Awalnya
ibu tidak suka dengan kehadiran Blanco, sebab dia betina dan menurut ibu tidak
‘cantik’. Tetapi berhubung adik saya yang paling bontot ngrengek minta supaya
ibu membolehkan memeliharanya, terpaksa ibu mengabulkan permintaan si bontot
Dik Gamma. Kini kehadiran Blanco terasa berarti dengan kematian Pompy dan
kehadiran bayi Pompy melalui rahim Blanco. Kalau tidak ada Blanco tentu tidak
akan ada generasi Pompy.
Dik Ana yang selalu sms
memberi kabar tentang Pompy meminta saya mencarikan nama yang bagus untuk bayi
kucing itu. Tidak perlu lama saya mendapatkan nama untuknya, dengan
menggabungkan nama Pompy dan Blanco, akhirnya mendapatkan nama Pyco. Karena
nama awal Pompy adalah Marcello, jadi Pyco menjadi Marcello Pyco. Nama yang
bagus bukan? Dan mulai sore itu terbentuklah silsilah keluarga Marcello.
Kebahagiaan itu tidak
kekal
Alloh
maha Adil dan bijaksana, jika Dia berkehendak tentu itu adalah jalan yang
terbaik bagi umatnya. Subuh tadi kami kembali mendapat berita menyedihkan dari
Jogja, betapa tidak, bayi Pyco yang kami harapkan menjadi penerus Pompy mati.
Kata Dik Ana, Pyco dikuburkan bersebelahan dengan bapaknya.
Tentunya
kesedihan ini semakin menjadi ketika harapan mulai tumbuh dan dengan seketika
sirna. Tapi apa mau dikata, kami harus ikhlas, karena mungkin ini jalan yang
terbaik bagi Pyco. Sekarang tinggal Blanco si betina yang ada di rumah, tanpa
anak dan suaminya. Mungkin jika Blanco manusia, dia lebih merasakan sedih yang
bertubi-tubi dibandingkan kami majikannya. Kasihan, padahal mereka
bukan kucing yang nakal, mereka manis dan menggemaskan.
Meski hanya kucing temuan pada mulanya, tapi
Pompy berwajah kucing Persia, badannya pun sangat mirip, orang-orang yang
melihatnya selalu gemas, dan mereka pikir Pompy kucing mahal. Tapi bagi kami
itu pandangan yang benar, Pompy memang mahal, bahkan sangat mahal, karena
berapapun orang akan membelinya tidak akan kami lepaskan. Jika kini kami lepas,
itu karena dia kembali pada pemilik dan penciptanya, Alloh Swt.
-
Marcello Pompy dan Marcello Pyco, We Love u.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>