Filed under: Uncategorized
Marcello Pompy
Penang, Rabu, 13 Agustus 2008
Pagi ini mual kembali saya rasakan, tapi tidak terlalu saya hiraukan, sebab sudah seperti pagi-pagi yang lalu, morning sick. Supaya sejenak rasa itu hilang, saya bawa tidur lagi. Tapi belum lama saya terlelap, handphone berdering tanda sms. Dibuka sms itu oleh suami saya, disampaikannya isi pesan itu pada saya. Katanya kabar dari keluarga Jogja disampaikan oleh Dik Hanny adik saya, dia bilang Pompy kucing kesayangan kami mati.
Betapa kagetnya saya, sedih pula rasanya. Bagi keluarga kami di Jogja, Pompy bukan hanya kucing biasa, dia luar biasa, menggemaskan dan bisa memahami apa yang kami suruh sesuai dengan kemampuannya sebagai kucing. Tepatnya sudah seperti anak bapak dan ibu saya, bahkan dia anak kesayangan. Warna bulunya putih dan hitam bulat-bulat pada tubuhnya. Bahkan pada bagian perutnya sebelah kiri, bulatan hitam seperti bentuk love. Pompy gemuk sekali, sampai-sampai ibu saya merasakan berat jika gendong dia. Dia juga sangat penurut.
Pompy, kami semua sungguh sayang kamu, semoga kamu tenang dan mendapatkan kehidupan yang lebih bahagia dari pada di dunia.
Kisah Marcello Pompy
Saat itu liburan akhir sekolah, pagi-pagi setelah sholat subuh, digunakan adik-adik saya, Dik Ana, Dik Sultan dan si bontot Dik Gamma untuk jalan-jalan. Menapaki jalan aspal sepanjang selokan Mataram, mereka melakukan dengan ceria, bersama cucu tetangga kami, Desi dan Tria.
Ketika sampai di perempatan jalan, masih di sekitar selokan Mataram, mereka melihat kurang lebih lima bayi kucing yang sepertinya belum lama lahir dan dibuang pemiliknya. Oleh Dik Ana diberinya mereka makanan, tetapi mereka diam, katanya hanya satu kucing yang mau mendekat makan dan bersahabat. Kemudian dia ambil kucing yang bersahabat itu, sedangkan Desi dan Tria mengambil dua dari lima bersaudara itu. Sisanya dibiarkan, sebab setelah sampai rumah, adik-adik izin pada ibu untuk memelihara kucing-kucing itu, tapi oleh ibu hanya diberi izin memelihara 1 saja dan kucing harus jantan, sebab kata ibu kalau betina nanti beranak melulu, ha..ha..? Lalu oleh ibu kucing itu dicek, syukur, katanya itu kucing jantan. Recananya jika boleh, akan adik-adik ambil semua sisa kucing itu, kasihan katanya.
Langsung saya suruh Dik Ana beli susu Dancow, kami suapi dia dengan rasa senang dan sayang. Kucing itu ternyata lincah sekali, Dik Gamma bilang, kasian kucing itu, tidak punya bapak dan ibu. Lalu dia tanya pada ibu, kalau ibu jadi ibunya kucing itu mau tidak? Kontan ibu saya kaget, dan tentunya gemes ada si bontot itu. Ibu jawab mau, diakan juga makhluk Alloh, sama seperti kita, hanya, kita manusia punya akal budi dan makhluk Alloh paling sempurna. Adik-adik terlihat amat gembira mendengarnya. Lalu kami berunding akan dinamai siapa, adik-adik mengusulkan diberi nama Pongky, sebagai pengganti Pongky kucing kami sebelumnya, yang hilang entah kemana. Tapi saya tidak setuju, bagi saya, biar nama Pongky sebagai kenangan. Biar tidak terlalu jauh dari nama Pongky, kita namai saja Pompy. Spontan adik-adik setuju semua, kata mereka nama yang bagus. Nama panjangnya MarcelloPompy.
Beberapa bulan berjalan, Pompy semakin menggemaskan, gemuk dan lucu. Bagaimana tidak gemuk, kerjanya cuma makan, tidur, mandi. Makanannya pun istimewa, dia tidak mau makanan instan, dia hanya mau makan dengan bandeng atau ikan, dan yang mengherankan lagi, dia tidak suka ikan mentah, hanya mau yang matang. Setiap bulan untuk makanan Pompy saja bapak menyediakan dana kurang lebih Rp 100.000. Untuk urusan mandi, hanya ibu yang mampu memandikannya. Dia juga amat penurut pada ibu, jika kami yang memanggilnya, dia kadang diam saja, seakan cuek, tetapi lain jika ibu yang memanggil, dia langsung lari mendekat. Padahal kami juga sangat sayang dia.
Pernah suatu ketika penjual sayur langganan kami, Mbak Parti, kehabisan stok bandeng. Padahal makanan Pompy habis, kebetulan kami nyari kemana-mana juga habis, Pompy seharian tidak mau makan. Dikasih telur, ayam, ikan jenis lain, tidak dia makan. Malam harinya bapak coba beli cakar ayam di angkringan, tetap saja dia biarkan cakar ayam itu. Akhirnya sehari-semalam dia tidak makan. Lemas, tiduran terus dia.
Paginya, ibu ke pasar dengan bapak lebih awal demi Pompy. Akhirnya dapat juga bandeng kesukaan Pompy, dia langsung makan dengan lahapnya. Pompy, Pompy, manja juga kamu!
Pompy juga punya kursi istimewa, tempat dia tidur dan duduk. Dia aneh memang, pasalnya, posisi tidurnya seperti manusia, telentang dan bersedekap!
Anehkan? Mana ada kucing yang tidur bersedekap?!
Kursi warna merah. Pernah kursi itu diduduki oleh Dik Ana, dia meang-meong seperti mengusir Dik Ana, kata ibu, kamu jangan duduk di situ, itu singgasana Pompy? Ha..ha..? Benar juga, ketika Dik Ana pindah tempat duduk, langsung Pompy naik dan tidur di kursi itu sambil sebelumnya jilat-jilat seluruh tubuhnya.
Oh Pompy…
Banyak kenangan indah bersamanya. Termasuk ketakutan kami saat tiba-tiba semalaman dia tidak pulang ke rumah. Kini.. kami harus kehilangan dia untuk selamanya. Betapa sakitnya hati kami, karena kematian Pompy tidak wajar. Bayangkan saja, dia mati karena 4 hari yang lalu dia pulang ke rumah dengan kaki yang terluka, lalu dia tidak mau makan dan minum. Lalu tadi pagi kabar itu sampai pada kami di Malaysia. Kami tau, luka di kakinya itu adalah luka hantaman benda tajam atau keras. Tapi kami tidak akan menuduh siapa yang berbuat, hanya heran, jika pelakunya manusia, betapa tega dia. Hilang sudah hati nuraninya. Semoga Alloh memberi balasan pada orang yang menganiaya Pompy kami. Jika Pompy melakukan kesalahan, hendaknya diusir saja sudah cukup, tidak perlu hingga aniaya dia, sebab kerugian apapun pasti akan bapak ganti padanya demi keselamatan Pompy. Tapi kini, semua sudah terlambat, kucing kesayangan kami sudah tiada.
Pernah suatu ketika Pompy makan ikan goreng di rumah tetangga, sebab ikan itu ditaruh dilantai olehnya. Tetangga marah-marah di rumahnya sendiri, tapi orang tua saya menyadari, kalau Pompy adalah tanggungjawab kami, maka diganti ikan goreng itu oleh bapak dengan uang yang jumlahnya lebih besar dari harga ikan itu, tetangga sayapun diam dan kembali tersenyum. Ini adalah salah satu contoh betapa sangat berartinya Pompy bagi kami.
Pompy.. baik-baik ya..
Kami akan selalu mengenangmu..
Jangan takut, di sisi Alloh kamu akan jauh lebih bahagia. Kamu akan tentram dan aman, tidak akan ada yang menyakitimu sayang..
Marcello Pompy, I love u so much, Forever!
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>