Filed under: Music
Pesta Malam Indonesia yang diadakan di Kuala Lumpur pada tanggal 16 Agustus 2008 kemarin ternyata mampu meluapkan pendaman kekesalan musisi lokal. Pagi harinya, tanggal 17 Agustus, tepat HUT RI, koran nasional Malaysia harian Utusan benar-benar menuangkannya. Awalnya saya tahu berita tersebut dari suami yang selalu menyempatkan diri membaca koran lewat internet. Rasa penasaran sayapun muncul dan betapa mengerikannya kalimat yang dilontarkan oleh penulis tersebut mengenai keberadaan musisi kita di negerinya.
Keberhasilan Slank, Ungu, Sheila on7, Samson’s, dan Dewi-dewi malam itu mengundang nada sengit yang teramat. Bahkan dalam tulisan tersebut musisi kita di Malaysia disebutnya kudis dan sampah. Bagi mereka, keberadaan musisi kita di Jiran mengganggu stabilitas daya jual musik mereka.
Yang membuat saya merasa aneh adalah ungkapan yang sudah terlanjur dilontarkan bagi musisi kita. Mengapa Malaysia begitu benci hingga berkata kasar sedemikiannya? Tentunya akan lebih parah karena dapat menjadi tambahan permasalahan antara kedua negara yang serumpun ini.
Dalam wawancara TV3 dengan Pasha Ungu, vokalis itu mengatakan " kalau dahulu di tahun 80-90an musisi Malaysia mewarnai dunia musik Indonesia, musisi Indonesia senang-senang saja, palahan dengan adanya mereka itu menambah semangat musisi kita membuat karya yang lebih baik lagi". Bagi saya jawaban Pasha itu baik sekali, sebab paling tidak itu seharusnya dapat membuka mata musisi negeri Jiran yang mendengarnya. Ada pula komentar dari Duta, vokalis Sheila on7, katanya " Musik itu enak jika ringan, jadi tidak perlu dibawa berat, supaya keindahan dari musik itu dapat dinikmati". Duta benar, untuk apa membawa berat persoalan musik jika justeru tidak dapat menikmatinya?
Hugh…. ada saja permasalahan yang timbul. Bagi saya, keberadaan musisi kita yang sering konser di Malaysia itu wajar saja, sebab promotor yang mengundang mereka tentunya tidak mau merugi jika mengundang musisi yang kurang peminatnya. Dan kebetulan musik kita mendapat respon yang sangat baik di Malaysia.
Padahal musisi dan artis Malaysia yang mencari nafkah di Indonesia tidak pernah dipersoalkan. Tidak masalah, sebab musisi kita memiliki pola pikir yang jauh lebih maju dan terbuka atas persaingan yang sehat. Semoga Indonesia berjaya. Piss!
Lha jarene cah kene pancene music-e Indonesia luwih enak je.. yo wis luweh..wong kene nek ngomong wani kasar..ning ra mbalang watu kok.. Aku sapa horo..
Comment by ILHAM 08.22.08 @ 9:40 amSaya menyimpan tulisan Ku Seman Ku Ismail yang berjudul Tahniah Konsert Indonesia.
Tentu, ia bukan suara seluruh warga Malaysia, karena nyatanya yang lain tidak mempersoalkan kehadiran musik Indonesia di negara tetangga.
Betapapun ketegangan semacam ini hadir, itu adalah berkah bagi kita untuk belajar bersabar dan berpikir lebar.
Comment by Ahmad 08.23.08 @ 12:23 amLeave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>