Selamat jalan Pak Dhe, jasamu akan selalu kami kenang, selamanya.
Wednesday October 29th 2008, 5:03 am
Filed under: Current Affairs

Sehari semalam di tanggal 14 Oktober 2008 lalu, bagian atas mata kanan berdenyut, atau biasa orang Jawa bilang “keduten”. Biasanya bagi orang Jawa ada kepercayaan bahwa orang yang merasakan hal seperti itu akan mendapatkan rezeki. Begitu pula jawaban suami ketika saya menanyakan perihal yang saya rasa. Saya juga sempat sms adik di Jogja, jawabannyapun sama seperti suami. Syukur Alhamdulillah jika memang pertanda baik itu benar-benar terjadi.

Pagi harinya tanggal 15 Oktober, keduten itu hilang sejenak, baru sekitar pukul 10-an lebih ketika kami sedang di dapur mencuci piring dan buat minuman, keduten itu datang lagi, tapi tidak sekencang sebelumnya. Sayapun kembali bilang pada suami, suami hanya tersenyum, katanya “nanti juga hilang ,sayang..”Benar juga ucapannya, sekejap kemudian hilang rasa itu. Sayapun melakukan aktifitas seperti biasa.

Sore harinya sesaat setelah saya terbangun dari tidur siang, kira-kira pukul 16-an, ketika itu saya sedang asyik makan mie rebus, ada sms masuk, dari adik di Jogja, isinya ada berita duka cita, bahwa PakDhe Parmadi meninggal dunia sekitar pukul 11.00 a.m

Berhentilah makan saya, lemas badan terasa, bertanya-tanya apa penyebabnya. Tidak lama kemudian, mami saya di Semarang telfon, juga mengabarkan berita tersebut,mungkin dikiranya saya belum tahu. Dari suaranya terlihat kalau mami sedih sekali. Dari mami pula saya mendapati kejelasan kalau PakDhe kena serangan Hipertensi, dan sempat juga dibawa ke rumah sakit.

PakDhe Parmadi memang bukan PakDhe kandung saya, dia bahkan awalnya orang lain. Tetapi karena jasa-jasanya yang sangat banyak membantu keluarga saya dalam bidang kesehatan selama bertahun-tahun, tentunya hubungan kami sangat dekat. Orang yang pertama kali berobat ke tempat beliau adalah ibu saya. Saat itu ibu sakit pendarahan yang sudah sangat akut, padahal bapak selalu membawa ibu periksa ke dokter spesialis kandungan. Tetapi mungkin itu bukanlah jalan keluar yang dikehendaki Allah, lalu ada kawan baik bapak namanya Pak Toto yang memberitahu bahwa ada cara alternatif yang mungkin dapat dicoba, sebab manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a. Bertemulah orang tua saya dengan PakDhe, saat itu saya masih kelas 1 SD. Melalui banyak percakapan akhirnya kami semua dekat, dan syukur Alhamdulillah penyakit ibu saya sembuh total tanpa operasi dan macam-macam saran yang dulu pernah dokter berikan. Sejak saat itu keluarga kami semakin dekat, bahkan sebagian besar keluarga orang tua saya pernah menjalani pengobatan dengan PakDhe. Hingga semua Eyang dan Om serta bulik-bulik saya. PakDhe juga guru “spiritual” kami, meski kami berbeda keyakinan, tapi kekeluargaan antara kami tidak terhalang. Bagaimana saya dapat melupakan jasa baik beliau selama ini, jika itu semua menyangkut kesehatan kami? Memang usia hanya Allah SWT yang mengetahui, tapi manusia harus tetap berikhtiar, bukan?

Ternyata mami juga mendapatkan pertanda atas ketiadaan PakDhe, katanya banyak burung Prenjak di kantin beterbangan( mami saya memiliki sebuah kantin di Fak Kelautan UNDIP), mami tanya pada pembantu apa gerangan, jawabnya itu akan ada tamu atau rezeki. Tapi sesaat kemudian setelah burung-burung itu pergi, bapak saya di Jogja telfon mengabarkan berita duka tersebut. Ya, mati-hidup adalah milik Allah SWT.

Saya tidak pernah melihat bahwa PakDhe Parmadi adalah orang lain, orang yang berbeda keyakinan, orang yang tidak segolongan dengan saya. Tetapi bagi saya, pandangan seperti itu hanya akan membawa pada ketidak rukunan dan hilangnya kesatuan serta rasa persaudaraan. Bagi saya, beliau adalah orang tua yang patut dihargai dan dihormati atas jasa-jasa dan kebaikannya.

Banyak sekali pasien PakDhe, tidak terhitung jumlahnya, tapi beliau ikhlas melakukan itu semua tanpa pungutan apapun. Tetapi meski begitu, keluarga saya tetap memberi tanda mata untuk PakDhe dan BuDhe setiap berobat, sebab kami sadar, apa yang kami beri selama ini belum apa-apa dibandingkan dengan jasa PakDhe pada keluarga kami. Jarang sekali orang semacam beliau, saat diberipun orang tua saya tidak langsung diberikan pada PakDhe, sebab bisa-bisa beliau marah, pemberian itu kami masukkan dalam amplop dan kami masukkan lagi dalam tas yang berisi oleh-oleh apapun jenisnya. Bahkan kadang jika menurut beliau pemberian kami berlebihan, esoknya beliau bilang pada kami untuk jangan berlebihan seperti itu. Padahal sekali lagi, menurut kami itu belum apa-apa jika dibandingkan dengan jasa beliau. Oya, PakDhe menyebut mereka yang berobat adalah pasien. Bahkan dokterpun ada juga yang ketempat beliau. Macam-macam latarbelakang pasien PakDhe tentunya, dari golongan orang biasa hingga pejabat, dari dokter hingga dosen, juga para pengusaha restoran dan hotel. Yang mengherankan, rata-rata semua pasien beliau sembuh dari sakit yang dideritanya. Jarang sekali ada yang gagal, asalkan dia menuruti anjuran, dan memang masih diberi umur panjang oleh Allah Pemilik jiwa dan raga kita.

Meskipun cara penyembuhan beliau disebut kebanyakan orang adalah cara alternatif, tapi metode yang digunakan beliau bukan seperti dukun yang memakai bunga-bunga dan sesaji, hanya do’a sesuai dengan agama masing-masing pasien dan pijatan melalui tenaga dalam beliau yang biasa kita sebut reflexi. Selain itu, kamipun disarankan minum jamu yang bahan-bahannya bisa kita beli di pasar Asem( diJogja). Terkadang ada juga jenis tumbuhan yang sulit untuk di dapat dan ternyata BuDhe menanamnya di halaman belakang. Memang macam-macam pengalaman setiap individu pasien saat berobat di PakDhe. Tetapi, setiap orang dan setiap penyakit berbeda jamunya. Metode Reiki yang sekarang terkenalpun beliau bisa, yang membedakan hanya jika ditempat lain akan keluar uang banyak, jika di PakDhe tanpa sepeserpun.

Kalau saya cerita lagi kebaikan beliau pada orang-orang tentunya akan membutuhkan banyak waktu. Hingga saat ini sayapun tidak dapat membedakan kedekatan keluarga saya dan keluarga PakDhe dengan para pasien beliau. Memang sangat berbeda, PakDhe dekat dengan pasien hanya saat proses penyembuhan saja, sebab biasanya jika sudah sembuh dan mendapatkan yang diinginkan mereka tidak kembali menjalin hubungan kekeluargaan tersebut. Tetapi keluarga saya berbeda, dalam kondisi dan situasi apapun kami tetap berkomunikasi dan menjalin hubungan baik itu.

Padahal rencananya jika sudah melahirkan nanti, saat kami pulang Jogja, kami akan kerumah beliau dan memperlihatkan anak kami. Saya yakin, beliau pasti bahagia, karena beliau perhatian sekali pada saya. Tetapi meski PakDhe sudah tiada, kamipun akan tetap sowan ke rumahnya dan membawa anak kami, sebab masih ada BuDhe di sana. Semoga BuDhe kuat dan tetap semangat menjalani hari-hari ke depan tanpa kehadiran raga PakDhe. Amien.





     
No Comments so far



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

(required)

(required)