Sendiri bukan berarti sepi
Hai semua…
Hari ini sampai nanti Ahad saya sendirian di rumah. Suami sedang mengikuti seminar selama 4 hari. Ini adalah pengalaman pertama saya sendirian tanpa dia dalam waktu beberapa hari di negeri orang. Kalau dulu kami pernah berjauhan, tetapi beda, sebab dulu saya bersama orang tua, jadi ada teman ngobrol.
Sekarang saya hanya bersama baby dalam rahim ini. Syukur dia tenang, tidak membuat saya sakit perut ataupun mual. Mungkin karena kemarin sebelum ayahnya berangkat dia sudah dinasehati supaya jangan rewel selama ayahnya seminar. Kami percaya bahwa baby dalam kandungan mampu mendengar apa kata kami, ayah-bundanya.
Benar kata ibu saya, kalau sudah memiliki anak, nantinya akan mampu mandiri dengan sendirinya, dan sekarang saatnya saya merasakan hal itu meskipun anak ini belum lahir, tetapi dia membawa saya pada rasa kemandirian sebagai ibu.
Kalau saya bosan di rumah, saya bisa main ke rumah Mbak Troy. Beruntung memiliki tetangga dan kawan yang baik. Awalnya saya takut, tetapi setelah menjalani malam pertama sendirian, rasa takut itu hilang. Saya menghadirkan rasa nyaman di rumah dengan berbagai aktifitas. Saya mengetik kerjaan suami (itung-itung membantunya) sambil membuka internet, memasak dan mencuci baju seperti biasanya, dan menoton televisi.
Suami juga sering sekali telfon atau juga sms. Mungkin dia khawatir, apalagi saya sedang hamil. Tetapi selalu saya katakan kalau anaknya tenang, kami baik-baik saja.
Sayang rasanya kalau sampai suami tidak ikut seminar itu. Awalnya memang dia agak berat hati meninggalkan saya, tapi saya mendorongnya. Bagi saya, dengan mengikuti seminar itu, suami akan semakin banyak kawan dan pengalaman. Saya selalu mendukung dalam hal kemajuan karier dan ilmunya. Semoga bermanfaat dan diberkahi Allah. Amin.
Nopember Ceria
Semakin hari si baby dalam rahim ini semakin membuat saya merasa sesak. Memang dia tidak sebesar layaknya kandungan usia 5 bulan, mungkin karena memang perut saya yang berukuran kecil. Sebab kata dokter semuanya okay.
Tanggal 10 Nopember yang lalu saya kembali kontrol ditemani suami, dan hasilnya semuanya baik-baik saja. Lalu pada tanggal 13-nya dua orang suster datang ke rumah untuk kembali mengontrol saya dan si baby. Yang membuat saya dan suami semakin gembira adalah saat kami mendengar detak jantung anak kami, rasanya terharu, dan tidak dapat dijabarkan dengan kata-kata.
Baru begitu saja kami sudah sangat bahagia, bagaimana kalau nanti saat dia lahir, pastinya kami akan lebih besar bersyukur, syukur dan syukur!
Rencananya, bulan depan kami baru akan mulai membeli perlengkapan untuk menyambut hadirnya buah hati kami ini. Karena kami belum melakukan USG, jadi warna yang kami pilih adalah warna yang netral. Tentunya ini juga bagian yang menyenangkan bagi kami.
Kehadiran anak memang membuat kami semakin merasa penuh dengan kesempurnaan dalam mengecap kebahagiaan pernikahan. Oya, kemarin tanggal 14 Nopember pernikahan kami menginjakkan usia ke-3. Lalu besok tanggal 19 gantian ulang tahun saya yang ke-25. Bulan ini diwarnai dengan pertambahan usia, dari usia pernikahan hingga usia saya. Harapan saya, semoga segalanya diberkahi oleh Alloh SWT. Amien.
Hore….OBAMA MENANG….!
Partai Demokrat di USA sedang menikmati kemenangan Obama. Begitu juga sebagian warga Indonesia yang mendukung dan pernah berhubung kait dengan presiden pertama kulit hitam AS itu. Sampai-sampai bekas sekolah SD Obama, SDN Menteng 01 juga melakukan upacara sambil mengirim do’a untuknya. Tidak ketinggalan presiden SBY bahkan memberikan ucapan selamat melalui telephon yang diterima langsung oleh kepala sekolah SD tersebut.
Wow, nampaknya kemenangan Obama menggembirakan banyak orang. Obama diharapkan mampu mewujudkan pemerintahan yang penuh dengan perdamaian tidak hanya di AS saja tetapi juga di seluruh dunia. Bangsa kulit hitam AS kini memiliki kekuatan yang lebih dan mental yang semakin menjadi dengan munculnya pemimpin dari kalangan mereka.
Kita semua warga dunia memiliki harapan atas kemenangan Obama, tetapi ingatlah bahwa Obama hanyalah manusia biasa yang mungkin tidak dapat memenuhi segala impian dan harapan seluruh dunia. Oleh karenanya, kita harus realistis dengan kondisi dunia sekarang. Jangan tergesa-gesa untuk mengandaikan Obama akan dapat menjadi “pahlawan” dunia. Mari kita bersama-sama melihat bagaimana perkembangan kemajuan tugas yang diembannya untuk beberapa waktu ke depan. Barulah kita akan dapat memberikan pernyataan akan keseriusan dan kebenaran segala janji-janji Obama saat kampanye.
Saya mengatakan itu bukan karena saya pendukung Mc.Cain ataupun benci pada Obama. Sebab kedua orang tersebut tidak ada hubung kait dengan saya. Saya berkata demikian karena Indonesia seakan-akan sudah sangat mengalu-alukan Obama sebagai bagian dari warga dunia yang pernah tinggal di Indonesia dan akhirnya menjadi presiden AS. Okay kalau itu menjadi bagian dari sebuah kebanggaan, tapi sepertinya tidak perlu terlalu dibesar-besarkan. Meski saya yakin, latar belakang dari segala kebanggaan itu adalah perasaan lebih dekat dengan Obama karena dia pernah tinggal di negara kita dan bahkan bersekolah meski hanya sebentar. Tentunya selain daripada rasa tersebut, layaknya seperti warga dunia yang lain adalah harapan hubungan antar negara yang lebih harmonis lagi. Semoga Obama merasakan juga kedekatan yang seperti sebagian rakyat Indonesia rasakan itu. Artinya tidak bertepuk sebelah tangan!
Yang sangat perlu dibesar-besarkan adalah hasil kerja Obama nantinya. Benarkah dia akan dapat mewujudkan perdamaian, terutama di daerah konflik Timur Tengah…? Semoga!
Ke Pusat Warisan Pulau Penang
Tuesday November 04th 2008, 1:41 am
Filed under:
Travel
Saya dan suami barusaja pulang dari Pusat Warisan Pulau Penang. Berdua kami menjajaki jalan Bandar Pulau Penang dengan menaiki sepeda motor. Selama mata memandang, hanya gedung-gedung dan rumah-rumah kuno peninggalan Inggris yang kami lihat. Kedai-kedai yang betebaran di sisi-sisi jalan mengingatkan saya pada salah satu daerah di Jawa Tengah, Semarang, tepatnya di kawasan pecinan. Nampaknya Pulau Penang memang lebih didominasi oleh orang keturunan China. Seperti yang sudah banyak orang tahu, Malaysia memiliki ragam penduduk, yaitu penduduk asli Melayu, China dan India.
Pada mulanya memang sesungguhnya kami tidak tahu pasti di mana letak gedung Pusat Warisan tersebut, hanya dengan alamat yang diberikan oleh DR. Suhaimi(salah satu dosen di kampus suami) kami mencari tempat tersebut. Beberapa kali kami bertanya pada orang jalan menuju tempat tersebut. Bandar Pulau Penang memang tidak besar, tetapi penuh dengan lorong dan belokan-belokan, itu juga yang kadang membuat kami melewati jalan yang sudah kami lewati sebelumnya. Kami tertawa jika melakukan hal tersebut.
Tapi syukurlah akhirnya perjuangan mencari Pusat Warisan itu berhasil. Tempat itu sangat sepi, saat kami datang hanya ada satu orang satpam saja di tempat itu. Kami masuk, dan langsung mengambil brosur yang ada di dekat pintu masuk. Itulah yang suami saya butuhkan untuk pekerjaan dia selanjutnya. Ya, kami ke tempat itu dalam rangka memenuhi tugas kerja suami dengan DR. Suhaimi. Sesaat kemudian datanglah seorang staf, entah siapa namanya sebab kami tidak sempat bertanya, tetapi dia dengan segera dan ramah menyapa kami. Staf tersebut bertanya kami dari mana dan bertanya apa saja keperluan kami. Kami diberinya semacam buku petunjuk dengan judul “ GEORGE TOWN (Penang) UNESCO World Heritage Site”.
Tidak lupa kami juga mengambil dua buah peta Pulau Penang, harapan kami agar jika suatu saat kami ke Bandar lagi tidak akan tersesat J. Lalu tidak lama kemudian kami langsung keluar dari tempat tersebut dan menuju ke kampus suami. Lega rasanya sudah menunaikan tugas suami, dan saya mendapatkan pengalaman baru.
Indonesia, jangan biarkan rakyatmu menangis di negeri orang!
Hari ini kami menemani Pak Zailani ke salah satu agen tenaga kerja wanita di Pulau Penang tepatnya di daerah Bayan Lepas. Pak Zailani adalah kawan suami di USM( University Sains Malaysia), beliau orang Melayu asli, tepatnya Kedah. Kawan tersebut sedang sangat memerlukan jasa pembantu rumah tangga sebab dia dan isterinya sama-sama bekerja. Pak Zailani seorang dosen yang juga seperti suami saya sedang sambil melanjutkan S3, dan isterinya seorang dokter. Mereka memiliki 3 orang anak balita, yang bungsu masih baby.
Wajarlah kalau Pak Zailani memerlukan jasa pembantu. Kawan suami tersebut lebih memilih pembantu dari Indonesia karena dinilai gajinya lebih murah berbanding dari negara lain. Pak Zailani diharuskan membayar uang pertama sebanyak RM 5800, sekitar Rp 14.500.000. Biaya keseluruhannya adalah RM 7850, sekitar kurang lebih 20-an juta, uang tersebut digunakan untuk mengurus dokumen dan segala macamnya, serta tiket pesawat. Kemudian untuk setiap bulannya Pak Zailani harus menggaji sebesar RM 550, sekitar Rp 1.375.000. Kawan suami tersebut juga tidak perlu membayar gaji si pembantu tersebut selama 6 bulan pertama, sebab gaji dia dihitung sebagai pengganti uang pengurusan dokumen dan macam-macamnya. Selain itu yang mendorong orang Malaysia memilih pembantu dari Indonesia adalah kemudahan dalam hal komunikasi, yaitu bahasa yang hampir mirip.
Jujur, hati ini merasa miris ketika melihat kenyataan bahwa pembantu tersebut adalah saudara sebangsa dan setanah air kita. Mereka merantau, mencari uang untuk meneruskan kehidupan dan berharap akan menjadi lebih baik.
Saya juga tadi diberi kesempatan untuk berbincang dengan pembantu yang Pak Zailani pilih lewat handphone. Kebetulan dia orang Jawa Tengah jadi komunikasi terasa lancar. Seorang ibu kelahiran tahun 1975, memiliki 4 orang anak, dan yang paling kecil berusia 4 tahun. Bisa dibayangkan, anak usia 4 tahun sudah ditinggal ibunya merantau jauh ke negeri seberang.
Okay, mungkin ada sangat banyak para pekerja Indonesia di Malaysia yang tidak beruntung, tetapi itu juga disebabkan banyak faktor. Jadi semoga pembantu Pak Zailani kerasan tinggal di Kedah, dan jauh dari segala persoalan-persoalan. Sebab segala urusan dokumen dia sudah jelas, jadi tidak perlu ada yang dirisaukan lagi.
Berbeda jauh dengan para tenaga kerja yang bermasalah dan sekarang mereka berada kantor Konsulat Jenderal Indonesia di Penang, selain bermasalah, mereka juga tidak memiliki paspor dan permit. Kalau dipikir-pikir perbuatan mereka itu sangat nekat bukan? Itu yang katahuan, masih banyak yang tidak katahuan oleh aparat Malaysia.
Sebab, saat suami melakukan pendataan untuk pemilihan umum 2009 nanti, banyak para pekerja yang tidak mau di data dengan alasan takut. Kami tidak habis pikir, bagaimana mereka bisa sampai ke negara orang tanpa surat apapun? bahkan, KTP saja mereka tidak punya!
Ada yang mengatakan kalau mereka menuju ke Malaysia dengan menaiki perahu bot yang biayanya malah jauh lebih lebih mahal dibandingkan naik pesawat. Belum lagi keamanan yang tidak terjamin, sebab bot tersebut adalah bot yang biasanya untuk mencari ikan para nelayan.
Pemerintah kita harusnya segera mensosialisasikan lewat media massa, televisi atau media apapun supaya mereka yang tidak memiliki dokumen yang lengkap jangan berani-berani keluar dari negara sendiri. Terutamanya sosialisasi dilakukan di daerah pelosok desa yang diperkirakan banyak masyarakatnya sangat berminat menjadi TKI.
Mereka sama seperti kita, manusia biasa yang memerlukan keamanan, kenyamanan, dan juga martabat yang sama. Demi sesuap nasi mereka rela melakukan semua itu, karena mungkin mereka rasa di negaranya sendiri nasib tidak berpihak padanya.
Indonesia, jangan biarkan rakyatmu menangis di negeri orang!
Memasuki Usia Kehamilan 5 Bulan.
Tidak terasa memasuki bulan Nopember, kalau begitu usia kehamilan saya memasuki bulan kelima. Perut ini semakin membesar tentunya, membuat saya terkadang merasa sesak. Tetapi itu semua wajar, dan sayapun menikmatinya, meski dengan mengeluh dan bermanja dengan ayah si baby ini. Karena saking senangnya, kamipun tidak sabar menimang dan bermain dengannya. Sering kami mengajaknya bicara meski dia masih dalam rahim saya yang entah sedang apa
Seperti semalam, saya merasakan perut sakit sekali, rasanya seolah-olah perut ini ditarik-tarik kencang dan terasa sampai ke punggung. Saat perut ini saya pegang, terasa keras dibagian perut sebelah kanan bawah. Karena tidak tertahankan, sayapun menangis sejadinya :’( hingga suami bingung harus bagaimana. Lalu oleh suami diusapnya perut hingga punggung saya dengan diolesi minyak kayu putih. Tidak lama kemudian berkurang sakit tersebut, lega rasanya
Kamipun tertawa, sebab seolah-olah baby ini merajuk ingin diusap oleh sang ayah, hingga dia buat saya kesakitan. Sayapun heran, padahal saya bunda yang mengandungnya, tidak sedang ingin diusap ayahnya, hik?! Tetapi rupanya si baby baru diam jika sudah “ditangani” oleh ayahnya. Anak ayah dia rupanya.
Saya tidak tahu kejadian semalam termasuk langka untuk ibu hamil yang memasuki usia kehamilan 5 bulan atau tidak, yang jelas itulah yang saya rasakan. Padahal, meski perut ini membesar, tetapi belumlah terlihat sangat. Oleh sebab itu kami pikir baby kami masih kecil dan belum tahu apa-apa. Tetapi Allah Maha Kuasa, benar kalau di saat 4 bulan Allah meniupkan ruh pada manusia ciptaan-Nya di dalam rahim ibu. Jadi anak kamipun begitu juga, dan meski baru diberi-Nya ruh, anak kami rupanya langsung dapat dengan cepat merespon stimulan-stimulan yang kami berikan.
Ah, entahlah… Kamipun heran… Tentunya kami tidak dapat menjelaskan dengan teori, saya hanya dapat bercerita apa saja yang saya rasa dan suami yang juga selalu ikut bingung dengan tingkah anak kami. Allah Maha Besar. Subhannallah..