Indonesia, jangan biarkan rakyatmu menangis di negeri orang!
Monday November 03rd 2008, 1:36 am
Filed under: Current Affairs

Hari ini kami menemani Pak Zailani ke salah satu agen tenaga kerja wanita di Pulau Penang tepatnya di daerah Bayan Lepas. Pak Zailani adalah kawan suami di USM( University Sains Malaysia), beliau orang Melayu asli, tepatnya Kedah. Kawan tersebut sedang sangat memerlukan jasa pembantu rumah tangga sebab dia dan isterinya sama-sama bekerja. Pak Zailani seorang dosen yang juga seperti suami saya sedang sambil melanjutkan S3, dan isterinya seorang dokter. Mereka memiliki 3 orang anak balita, yang bungsu masih baby.

Wajarlah kalau Pak Zailani memerlukan jasa pembantu. Kawan suami tersebut lebih memilih pembantu dari Indonesia karena dinilai gajinya lebih murah berbanding dari negara lain. Pak Zailani diharuskan membayar uang pertama sebanyak RM 5800, sekitar Rp 14.500.000. Biaya keseluruhannya adalah RM 7850, sekitar kurang lebih 20-an juta, uang tersebut digunakan untuk mengurus dokumen dan segala macamnya, serta tiket pesawat. Kemudian untuk setiap bulannya Pak Zailani harus menggaji sebesar RM 550, sekitar Rp 1.375.000. Kawan suami tersebut juga tidak perlu membayar gaji si pembantu tersebut selama 6 bulan pertama, sebab gaji dia dihitung sebagai pengganti uang pengurusan dokumen dan macam-macamnya. Selain itu yang mendorong orang Malaysia memilih pembantu dari Indonesia adalah kemudahan dalam hal komunikasi, yaitu bahasa yang hampir mirip.

Jujur, hati ini merasa miris ketika melihat kenyataan bahwa pembantu tersebut adalah saudara sebangsa dan setanah air kita. Mereka merantau, mencari uang untuk meneruskan kehidupan dan berharap akan menjadi lebih baik.

Saya juga tadi diberi kesempatan untuk berbincang dengan pembantu yang Pak Zailani pilih lewat handphone. Kebetulan dia orang Jawa Tengah jadi komunikasi terasa lancar. Seorang ibu kelahiran tahun 1975, memiliki 4 orang anak, dan yang paling kecil berusia 4 tahun. Bisa dibayangkan, anak usia 4 tahun sudah ditinggal ibunya merantau jauh ke negeri seberang.

Okay, mungkin ada sangat banyak para pekerja Indonesia di Malaysia yang tidak beruntung, tetapi itu juga disebabkan banyak faktor. Jadi semoga pembantu Pak Zailani kerasan tinggal di Kedah, dan jauh dari segala persoalan-persoalan. Sebab segala urusan dokumen dia sudah jelas, jadi tidak perlu ada yang dirisaukan lagi.

Berbeda jauh dengan para tenaga kerja yang bermasalah dan sekarang mereka berada kantor Konsulat Jenderal Indonesia di Penang, selain bermasalah, mereka juga tidak memiliki paspor dan permit. Kalau dipikir-pikir perbuatan mereka itu sangat nekat bukan? Itu yang katahuan, masih banyak yang tidak katahuan oleh aparat Malaysia.

Sebab, saat suami melakukan pendataan untuk pemilihan umum 2009 nanti, banyak para pekerja yang tidak mau di data dengan alasan takut. Kami tidak habis pikir, bagaimana mereka bisa sampai ke negara orang tanpa surat apapun? bahkan, KTP saja mereka tidak punya!

Ada yang mengatakan kalau mereka menuju ke Malaysia dengan menaiki perahu bot yang biayanya malah jauh lebih lebih mahal dibandingkan naik pesawat. Belum lagi keamanan yang tidak terjamin, sebab bot tersebut adalah bot yang biasanya untuk mencari ikan para nelayan.

Pemerintah kita harusnya segera mensosialisasikan lewat media massa, televisi atau media apapun supaya mereka yang tidak memiliki dokumen yang lengkap jangan berani-berani keluar dari negara sendiri. Terutamanya sosialisasi dilakukan di daerah pelosok desa yang diperkirakan banyak masyarakatnya sangat berminat menjadi TKI.

Mereka sama seperti kita, manusia biasa yang memerlukan keamanan, kenyamanan, dan juga martabat yang sama. Demi sesuap nasi mereka rela melakukan semua itu, karena mungkin mereka rasa di negaranya sendiri nasib tidak berpihak padanya.

Indonesia, jangan biarkan rakyatmu menangis di negeri orang!





     
No Comments so far



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

(required)

(required)